Tampilkan postingan dengan label lucu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lucu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juli 2011

Komik Anti Terorisme

Komik Anti Terorisme

Cerita tentang peran masyarakat desa saat menghadapi bencana letusan gunung api. Dibuat dan diterbitkan oleh Yayasan IDEP untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat.

Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasi-organisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat
yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang.

Perlu disadari bahwa detik-detik pertama saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar.
Didasari pemikiran tersebut dan sejalan dengan program pengembangan masyarakat yang mandiri, masyarakat sendiri perlu mengetahui secara menyeluruh semua upaya tindakan penanggulangan bencana supaya bisa segera mengambil tindakan yang tepat pada waktu bencana terjadi. Buku ini lebih menekankan tindakan-tindakan persiapan dalam usaha mencegah kemungkinan bencana dan mengurangi dampak bencana.

ISBN : 979-24-1307-3
Edisi Pertama 2005 oleh Yayasan IDEP
Edisi Kedua 2007 oleh Yayasan IDEP
PO BOX 160 Ubud, 80571, Bali, Indonesia
w w w. i d e p f o u n d a t i o n . o r g / p b bm
© Yayasan IDEP
IDEP mempersilahkan kepada lembaga atau perorangan yang bermaksud menggandakan buku ini untuk kepentingan berbagai kegiatan penanggulangan bencana yang non-komersial tanpa mengubah isi buku. Untuk alasan lain, silahkan mengajukan ijin tertulis kepada Yayasan IDEP.
Dikembangkan dengan dukungan dari
BAKORNAS PB, MPBI, UNESCO, USAID, ISDR, IFRC, PMI, OXFAM GB dan Masyarakat Indonesia.
Buku cerita ini adalah bagian dari Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM)

Komik tentang Perdamaian

Komik Perdamaian

Cerita tentang peran masyarakat desa saat menghadapi bencana letusan gunung api. Dibuat dan diterbitkan oleh Yayasan IDEP untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat.

Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasi-organisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat
yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang.

Perlu disadari bahwa detik-detik pertama saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar.
Didasari pemikiran tersebut dan sejalan dengan program pengembangan masyarakat yang mandiri, masyarakat sendiri perlu mengetahui secara menyeluruh semua upaya tindakan penanggulangan bencana supaya bisa segera mengambil tindakan yang tepat pada waktu bencana terjadi. Buku ini lebih menekankan tindakan-tindakan persiapan dalam usaha mencegah kemungkinan bencana dan mengurangi dampak bencana.

ISBN : 979-24-1307-3
Edisi Pertama 2005 oleh Yayasan IDEP
Edisi Kedua 2007 oleh Yayasan IDEP
PO BOX 160 Ubud, 80571, Bali, Indonesia
w w w. i d e p f o u n d a t i o n . o r g / p b bm
© Yayasan IDEP
IDEP mempersilahkan kepada lembaga atau perorangan yang bermaksud menggandakan buku ini untuk kepentingan berbagai kegiatan penanggulangan bencana yang non-komersial tanpa mengubah isi buku. Untuk alasan lain, silahkan mengajukan ijin tertulis kepada Yayasan IDEP.
Dikembangkan dengan dukungan dari
BAKORNAS PB, MPBI, UNESCO, USAID, ISDR, IFRC, PMI, OXFAM GB dan Masyarakat Indonesia.
Buku cerita ini adalah bagian dari Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM)

Komik Bencana Gempa Bumi

Komik Bencana Gempa Bumi

Cerita tentang peran masyarakat desa saat menghadapi bencana letusan gunung api. Dibuat dan diterbitkan oleh Yayasan IDEP untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat.

Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasi-organisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat
yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang.

Perlu disadari bahwa detik-detik pertama saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar.
Didasari pemikiran tersebut dan sejalan dengan program pengembangan masyarakat yang mandiri, masyarakat sendiri perlu mengetahui secara menyeluruh semua upaya tindakan penanggulangan bencana supaya bisa segera mengambil tindakan yang tepat pada waktu bencana terjadi. Buku ini lebih menekankan tindakan-tindakan persiapan dalam usaha mencegah kemungkinan bencana dan mengurangi dampak bencana.

ISBN : 979-24-1307-3
Edisi Pertama 2005 oleh Yayasan IDEP
Edisi Kedua 2007 oleh Yayasan IDEP
PO BOX 160 Ubud, 80571, Bali, Indonesia
w w w. i d e p f o u n d a t i o n . o r g / p b bm
© Yayasan IDEP
IDEP mempersilahkan kepada lembaga atau perorangan yang bermaksud menggandakan buku ini untuk kepentingan berbagai kegiatan penanggulangan bencana yang non-komersial tanpa mengubah isi buku. Untuk alasan lain, silahkan mengajukan ijin tertulis kepada Yayasan IDEP.
Dikembangkan dengan dukungan dari
BAKORNAS PB, MPBI, UNESCO, USAID, ISDR, IFRC, PMI, OXFAM GB dan Masyarakat Indonesia.
Buku cerita ini adalah bagian dari Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM)

Komik Bencana Badai dan Angin Topan

Komik Bencana Badai

Cerita tentang peran masyarakat desa saat menghadapi bencana letusan gunung api. Dibuat dan diterbitkan oleh Yayasan IDEP untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat.

Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasi-organisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat
yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang.

Perlu disadari bahwa detik-detik pertama saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar.
Didasari pemikiran tersebut dan sejalan dengan program pengembangan masyarakat yang mandiri, masyarakat sendiri perlu mengetahui secara menyeluruh semua upaya tindakan penanggulangan bencana supaya bisa segera mengambil tindakan yang tepat pada waktu bencana terjadi. Buku ini lebih menekankan tindakan-tindakan persiapan dalam usaha mencegah kemungkinan bencana dan mengurangi dampak bencana.

ISBN : 979-24-1307-3
Edisi Pertama 2005 oleh Yayasan IDEP
Edisi Kedua 2007 oleh Yayasan IDEP
PO BOX 160 Ubud, 80571, Bali, Indonesia
w w w. i d e p f o u n d a t i o n . o r g / p b bm
© Yayasan IDEP
IDEP mempersilahkan kepada lembaga atau perorangan yang bermaksud menggandakan buku ini untuk kepentingan berbagai kegiatan penanggulangan bencana yang non-komersial tanpa mengubah isi buku. Untuk alasan lain, silahkan mengajukan ijin tertulis kepada Yayasan IDEP.
Dikembangkan dengan dukungan dari
BAKORNAS PB, MPBI, UNESCO, USAID, ISDR, IFRC, PMI, OXFAM GB dan Masyarakat Indonesia.
Buku cerita ini adalah bagian dari Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM)

Komik Bencana Tanah Longsor

Komik Bencana Tanah Longsor
Cerita tentang peran masyarakat desa saat menghadapi bencana letusan gunung api. Dibuat dan diterbitkan oleh Yayasan IDEP untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat.

Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasi-organisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat
yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang.

Perlu disadari bahwa detik-detik pertama saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar.
Didasari pemikiran tersebut dan sejalan dengan program pengembangan masyarakat yang mandiri, masyarakat sendiri perlu mengetahui secara menyeluruh semua upaya tindakan penanggulangan bencana supaya bisa segera mengambil tindakan yang tepat pada waktu bencana terjadi. Buku ini lebih menekankan tindakan-tindakan persiapan dalam usaha mencegah kemungkinan bencana dan mengurangi dampak bencana.

ISBN : 979-24-1307-3
Edisi Pertama 2005 oleh Yayasan IDEP
Edisi Kedua 2007 oleh Yayasan IDEP
PO BOX 160 Ubud, 80571, Bali, Indonesia
w w w. i d e p f o u n d a t i o n . o r g / p b bm
© Yayasan IDEP
IDEP mempersilahkan kepada lembaga atau perorangan yang bermaksud menggandakan buku ini untuk kepentingan berbagai kegiatan penanggulangan bencana yang non-komersial tanpa mengubah isi buku. Untuk alasan lain, silahkan mengajukan ijin tertulis kepada Yayasan IDEP.
Dikembangkan dengan dukungan dari
BAKORNAS PB, MPBI, UNESCO, USAID, ISDR, IFRC, PMI, OXFAM GB dan Masyarakat Indonesia.
Buku cerita ini adalah bagian dari Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM)

Komik Bencana Banjir

Komik Bencana Banjir

Cerita tentang peran masyarakat desa saat menghadapi bencana letusan gunung api. Dibuat dan diterbitkan oleh Yayasan IDEP untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat.

Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasi-organisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat
yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang.

Perlu disadari bahwa detik-detik pertama saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar.
Didasari pemikiran tersebut dan sejalan dengan program pengembangan masyarakat yang mandiri, masyarakat sendiri perlu mengetahui secara menyeluruh semua upaya tindakan penanggulangan bencana supaya bisa segera mengambil tindakan yang tepat pada waktu bencana terjadi. Buku ini lebih menekankan tindakan-tindakan persiapan dalam usaha mencegah kemungkinan bencana dan mengurangi dampak bencana.

ISBN : 979-24-1307-3
Edisi Pertama 2005 oleh Yayasan IDEP
Edisi Kedua 2007 oleh Yayasan IDEP
PO BOX 160 Ubud, 80571, Bali, Indonesia
w w w. i d e p f o u n d a t i o n . o r g / p b bm
© Yayasan IDEP
IDEP mempersilahkan kepada lembaga atau perorangan yang bermaksud menggandakan buku ini untuk kepentingan berbagai kegiatan penanggulangan bencana yang non-komersial tanpa mengubah isi buku. Untuk alasan lain, silahkan mengajukan ijin tertulis kepada Yayasan IDEP.
Dikembangkan dengan dukungan dari
BAKORNAS PB, MPBI, UNESCO, USAID, ISDR, IFRC, PMI, OXFAM GB dan Masyarakat Indonesia.
Buku cerita ini adalah bagian dari Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM)

Komik Tsunami

Cerita tentang peran masyarakat desa saat menghadapi bencana letusan gunung api. Dibuat dan diterbitkan oleh Yayasan IDEP untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat.

Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasi-organisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat
yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang.
Komik Tsunami

Perlu disadari bahwa detik-detik pertama saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar.
Didasari pemikiran tersebut dan sejalan dengan program pengembangan masyarakat yang mandiri, masyarakat sendiri perlu mengetahui secara menyeluruh semua upaya tindakan penanggulangan bencana supaya bisa segera mengambil tindakan yang tepat pada waktu bencana terjadi. Buku ini lebih menekankan tindakan-tindakan persiapan dalam usaha mencegah kemungkinan bencana dan mengurangi dampak bencana.




ISBN : 979-24-1307-3
Edisi Pertama 2005 oleh Yayasan IDEP
Edisi Kedua 2007 oleh Yayasan IDEP
PO BOX 160 Ubud, 80571, Bali, Indonesia
w w w. i d e p f o u n d a t i o n . o r g / p b bm
© Yayasan IDEP
IDEP mempersilahkan kepada lembaga atau perorangan yang bermaksud menggandakan buku ini untuk kepentingan berbagai kegiatan penanggulangan bencana yang non-komersial tanpa mengubah isi buku. Untuk alasan lain, silahkan mengajukan ijin tertulis kepada Yayasan IDEP.
Dikembangkan dengan dukungan dari
BAKORNAS PB, MPBI, UNESCO, USAID, ISDR, IFRC, PMI, OXFAM GB dan Masyarakat Indonesia.
Buku cerita ini adalah bagian dari Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM)

Rabu, 18 Mei 2011

Catatan Ringan Relawan (6)

Merapi
Handphone memiliki peran yang vital dalam kegiatan tanggap bencana di Merapi baru-baru ini. Meski sudah ada alat komunikasi radio (handy talkie dan rig), namun untuk berkomunikasi jarak jauh, HP benar-benar membantu kerja para relawan. Para pengguna telepon nir kabel ini cukup beruntung karena hampir semua wilayah di lereng Merapi dapat dijangkau oleh sinyal HP.
Para relawan biasanya mengantongi lebih dari satu ponsel. Hal iIni untuk mengantisipasi jika salah satu operator seluler kehilangan sinyal. Alasan lainnya adalah untuk menghemat pulsa. Jika akan menghubungi nomor tertentu, mereka akan menyesuaikan dengan menggunakan operator yang sama. Apalagi saat ini ada HP yang memiliki fungsi nomor ganda dalam satu pesawat. Biasanya relawan mengantongi HP GSM dan HP CDMA.
Meski bermanfaat, namun HP kadang merepotkan. Bentuknya yang mungil dan banyaknya hal yang harus dikerjakan kadang membuat relawan lupa meletakkan HP. Mereka sebenarnya sudah mengantisipasi dengan memakai rompi dengan banyak saku. Masih ditambah dengan tas pinggang dan ransel. Ini pun juga bisa merepotkan. Banyaknya tempat penyimpanan kadang juga membuat ribet ketika akan mencari HP.
****
Pada awal erupsi Merapi, kami sudah melakukan aksi tanggap bencana. Saat sedang istirahat makan, tiba-tiba ada telepon masuk dari sebuah stasiun radio. Mereka meminta wawancara yang disiarkan secara langsung.  Maka saya menyingkir ke tempat yang lebih sepi supaya bisa melayani wawancara. Di akhir wawancara, saya sudah ditunggui oleh relawan lain untuk melanjutkan perjalanan. Maka saya pun terburu-buru melompat ke atas mobil.
Setelah sekian menit perjalanan, saya meraba-raba saku rompi mencari HP kedua (saya membawa dua HP.  HP pertama bernomor ganda,  HP kedua bernomor tunggal). Ternyata tidak ketemu. Aduh dimana nih? Saya coba menelepon nomor HP kedua. Tersambung, tetapi tidak terdengar suaranya di dalam mobil. Saya mengambil kesimpulan HP itu ada di luar mobil. "Jangan-jangan HPku jatuh saat berlari ke mobil tadi," batinku dengan lemas.
Saya menyampaikan hal ini kepada relawan yang lain. Mereka memutuskan untuk kembali ke tempat kami beristirahat untuk mencari HP saya. Saat itu sedang hujan gerimis ketika para relawan ramai-ramai mencari di tanah lapang dan semak-semak. Saya mencoba menelepon HP saya supaya berbungi, namun nomor tidak dapat dihubungi. Saya pun pasrah. Saya memperkirakan HP itu ditemukan seseorang yang kemudian mematikan HP itu. Saya pun melakukan upaya terakhir dengan mengirimkan SMS ke nomor saya, dengan pesan: "Jika Anda menemukan HP ini, tolong dikembalikan ke [alamat saya]."
****
Di akhir tanggap bencana, kejadian serupa terjadi lagi.Bahkan peristiwanya juga setelah beristirahat di sebuah warung makan. Dalam perjalanan, dia kebingungan mencari HP-nya. Nomornya sudah dihubungi tetapi deringnya tidak terdengar di dalam mobil. Kesimpulan sementara, HP ketinggalan di warung makan. Untung dalam nota pembayaran tercantum nomor HP pemilik warung. Maka dia menelepon pemilik warung untuk menanyakan apakah ada HP yang ketinggalan.
"Sebentar ya pak, kami cari dulu," jawab pemilik warung.
Tak lama kemudian pemilik warung menelepon untuk mengabarkan bahwa tidak ada HP yang ketinggalan.
Cerita ketiga ini masih soal HP. Tanggal 15 Desember kami diundang untuk mengisi salah satu stan dalam Pameran dan Bursa Pelayanan kepada Wasior, Mentawan dan Merapi. Kami diundang oleh Yakkum.
Dalam pameran itu, kami menampilkan foto-foto kegiatan. Lalu supaya menarik perhatian, kami sengaja mendatangkan sepeda motor yang hangus terbakar oleh awan panas. Kami juga mengarungi lahar Merapi dan mengangkut kayu-kayu yang terbakar. Tak lupa peralatan rumah tangga yang juga hampir melelah. Usai pameran, kami menaikkan semua barang itu ke atas mobil operasional.
Saat bersiap pulang, seorang relawan kebingungan mencari HP-nya. Saat ditelepon, tidak terdengar deringnya. Sepanjang perjalanan pulang, wajah relawan ini terlihat suram padahal biasanya dia gemar bercanda.
Photobucket
Pameran di Paragon, Solo
Photobucket
Sepeda motor yang terbakar.
****
Lalu bagaimana nasib ketiga HP itu?
Dalam kisah pertama, ternyata HP itu tersimpan di dasar ransel dan dalam mode getar sehingga dering tidak berbunyi ketika dipanggil.
Dalam kisah kedua, HP juga tersimpan di dalam tas. Akan tetapi dering HP tidak terdengar karena kalah oleh suara mesin mobil.
Dalam kisah ketiga, keesokan harinya, pagi-pagi benar sang relawan sudah nongkrong di posko. Dia mengobok-obok dan mengaobrak-abrik barang-barang sisa pameran yang masih ada di atas mobil operasional. Akhirnya HP itu ketemu juga. Rupanya HP itu tercecer saat dia menaikkan barang pameran ke atas mobil.
Akhirnya, kisah HP ini berujung pada happy ending.
Photobucket
__________________All About Writings

Catatan Ringan Relawan (5)

KaligendolKepuasan terbesar relawan adalah ketika bisa meringankan beban penyintas bencana. Maka ketika mendengar di tempat tertentu ada pemyintas membutuhkan bantuan, maka adrenalin relawan terpacu. Mereka akan bergegas menuju lokasi untuk mengulurkan tangan.
Hal yang sama terjadi pada bencana erupsi Merapi ini.  Saat erupsi besar, tanggal 4 Nopember, mendadak timbul gelombang pengungsian. Mereka membutuhkan membutuhkan makanan siap santap dalam jumlah yang besar. Yang mengharukan, situasi kritis ini direspon masyarakat dengan sangat cepat. Tanpa dikomando dari pusat, namun berdasarkan solidaritas, mereka membuat nasi bungkus untuk dibagikan kepada pengungsi. Pada awalnya jumlah nasi bungkus hanya ratusan buah. Namun hari-hari berikutnya, jumlahnya bertambah drastis. Bahkan sampai mencapai puluhan ribu. Akibatnya, kami kewalahan mendistribusikan nasi bungkus.
Sebenarnya kami sudah mengatur distribusi nasi bungkus sesuai dengan jumlah pengungsi yang kami layani, sehingga jumlahnya sudah pas.  Namun seringkali ada donatur yang menurunkan ratusan nasi bungkus secara mendadak.  Jika mereka memberitahukan sebelumnya, kami punya waktu untuk menghubungi tempat-tempat pengungsian lain untuk menawarkan nasi bungkus.
Suatu hari, kami harus mendistribusikan 1000 nasi bungkus di luar bantuan yang biasa kami salurkan. Kami sudah menghubungi tempat pengungsian di barak Dodiklatpur (Komando Pendidikan dan Latihan Tempur) di Wedi, Klaten. Mereka bersedia menerima.  Ketika kami sampai di sana,  baru saja ada bantuan nasi bungkus sebanyak satu truk yang diturunkan di sana.  Nasi bungkus kami tidak laku. Kami harus mencari sasaran baru, sebab nasi bungkus ini adalah amanat dari donatur. Kami wajib menyalurkan ke pihak yang membutuhkan.
“Di Ceper ada tempat pengungsian butuh 400 nasi bungkus. Cepat kirim ke sana!” Perintah Agus Permadi, koordinator posko.
“Saya makan dulu ya,” kata seorang relawan yang menjadi sopir.
“Kalau makan dulu, nanti keburu didahului bantuan dari pihak lain,” sergah relawan,” sudah, kamu makan saja, aku yang menyetir.”
Demikianlah, dengan perjuangan berat, malam itu kami sukses menyalurkan 1000 nasi bungkus ekstra. Mengingat kembali peristiwa itu, saya tersenyum sendiri. Baru kali ini ada orang-orang yang berebut memberi bantuan.
Ini berbeda sekali dengan bencana gempa tahun 2006. Saat itu, penyintas yang “rebutan” bantuan, terutama yang berada di wilayah “pedalaman.” Melihat situasi ini, kami sengaja mencari blank spot, yaitu titik-titik yang belum terjamah bantuan.
Suatu hari, ada dua relawan yang dengan bersemangat berangkat dari posko mengendarai sepeda motor pinjaman. Mereka mendengar di wilayah tertentu belum terjamah bantuan. Misi dua orang ini adalah melakukan survei untuk memutuskan apa saja yang perlu dibantu dan berapa saja jumlahnya. Dengan semangat pejuang 45 mereka menyusuri pematang sawah dan melintasi jalan desa yang becek.
“Wah, tempatnya benar-benar sulit dijangkau nih,” kata satu relawan pada temannya. Mereka membayangkan akan punya cerita seru dan heroik untuk dibagikan [dan dipamerkan] pada relawan lainnya di posko nanti.
Sesampai di lokasi dan melakukan pendataan, tiba saatnya untuk pulang. Mereka bersiap menyusuri rute semula.
“Lho, kok lewat situ?” tanya warga heran. “Ada kok jalan lain yang lebih enak.”
Olala…ternyata ada jalur lain yang jauh lebih mulus dan mudah dilalui menuju ke posko induk. Maka, pupuslah angan-angan untuk memamerkan kisah heroik mereka.

Catatan Ringan Relawan (4)

Photobucket
Di pos kemanusiaan Klaten, ternyata ada banyak relawan yang bernama "Agus" dan "Bambang."  Jadi kalau ada orang yang mencari "Agus" pasti akan ditanya "Agus yang yang mana?" Hal ini mengingatkan saya empat tahun yang lalu. Saat itu kami juga membuka pos kemanusiaan. Suatu kali ada tenaga paramedis dari Kalimantan Tengah, tepatnya dari R.S. Bethesda Serukam yang datang ke pos kami.
"Saya mencari pak Agus," kata paramedis perempuan itu.
"Agus siapa ya?" jawab salah seorang relawan.
"Memangnya ada berapa Agus di sini?" tanya paramedis heran.
"Oh di sini semua orang dinamai Agus," jawab relawan. Sifat usilnya muncul. "Di sini, nama Agus itu semacam gelar. Jadi ada yang namanya Agus Permadi, Agus Handoyo, Agus Mulia, Agus Wawan, Agus Joko. Biar lebih sopan, setiap kali memanggil orang di sini, harus pakai nama Agus."
Umpan ternyata disambar. Paramedis itu percaya. Sejak saat itu, dia memanggil semua orang dengan nama Agus.
Beberapa bulan kemudian, ketika paramedis ini pamitan pulang, kami melakukan pengakuan dosa di hadapannya.
*****
Seorang hamba Tuhan datang ke pos kemanusiaan kami. Dia mengaku sudah direkomendasi oleh sebuah badan kerjasama antar gereja. Mula-mula kami percaya, karena dia menyebutkan nama seorang pendeta yang sudah kami kenal. Lama-lama, kami mulai meragukan kejujurannya.  Maka kami menghubungi pendeta yang disebut namanya itu. Kebetulan pendeta ini juga selaku pengurus badan kerjasama antar gereja yang disebut-sebut itu. Pendeta ini heran karena hamba Tuhan ini baru terlibat sekali dalam badan kerjasama antar gereja, yaitu sebagai panitia Natal.
Pendeta menelepon hamba Tuhan itu.
"Selamat pagi pak. Saya mendapat informasi, bapak mendapat rekeomendasi dari (menyebutkan nama badan kerjasama antar gereja). Apakah benar," tanya sang pendeta.
"Benar pak. Saya mendapat rekomendasi dari pdt. X," jawab hamba Tuhan di seberang.
"Saya ini yang bernama pdt. X itu," sahut pendeta X.
"Tut..tut...tut..." Sambungan telepon langsung diputus.
******
Ada orang Kristen mengirimi SMS kepada saya. Dia mengaku sedang mengelola 20.000 pengungsi yang belum mendapat bantuan. Dia minta bantuan. Namun ada yang ganjil di sini. Dengan angka sebesar itu dan dengan membanjirnya bantuan, hampir mustahil kalau masih ada puluhan ribu yang belum mendapat bantuan. Jika angkanya ratusan mungkin saya masih percaya. Tapi ini puluhan ribu. Saya lalu membalasnya: "Apakah angkanya sudah benar? Satu barak pengungsi yang dikelola pemerintah saja, kapasitas maksimalnya hanya 2000 orang. Itu pun sudah membuat kewalahan. Jika Anda mengelola 20.000 (baca: "dua puluh ribu") pengungsi, maka itu setara dengan 20 barak pengungsi milik pemerintah. Pemerintah kabupaten Klaten saja hanya mengelola 3 barak pengungsi."
Orang ini tidak pernah membalas SMS saya. Saya lalu merenung: Pos kemanusiaan kami yang menampung 600 orang saja sudah membuat kami keawalahan, padahal sudah disengkuyung oleh empat gereja (GKI Klaten, GKJ Klaten, GKJ Gondangwinangun dan GKJ Pedan). Ketika ada gereja yang menyatakan bisa melayani ribuan bahkan ratusan ribu pengungsi, itu membuat saya geleng-geleng kepala: antara percaya dan tidak percaya.
__________________

Catatan Ringan Relawan (3)

Bantuan
Ada dua kelompok relawan yang sama-sama menerima bantuan dari lembaga amal bentukan stasius TV. Mereka harus mengambil sendiri bantuan di home base lembaga amal ini. Satu kelompok relawan membawa truk, sementara kelompok relawan yang lain hanya membawa pick up kecil. Maka terjadilah dialog berikut:
"Mengapa kamu bawa mobil kecil?" tanya relawan yang bawa truk kepada relawan yang bawa pick up.
"Memangnya kenapa?" Relawan yang bawa pick up balik bertanya.
"Itu namanya kamu nggak beriman."
"Kok bisa?"
"Bukankah ada firman Tuhan yang berkata: Jadilah kepadamu menurut imanmu. Kalau kalian bawa mobil kecil maka kalian akan diberi bantuan sedikit,"jelas relawan yang bawa truk. "Lihat nih, kami bawa truk yang muat banyak. Sang pemberi bantuan tentu tidak enak kalau beri bantuan sedikit karena mobil akan kelihatan kosong. Kami bawa truk karena mengimani akan dapat banyak."
"Itu sih bukan beriman, itu namanya kemaruk," sergah relawan yang bawa pick up.
Mereka tertawa bersama-sama. Begitulah gambaran situasi di dalam bidang kemanusiaan. Di antara relawan ada saling canda untuk menghilangkan ketegangan dan sejenak melupakan keletihan. Meski belum saling kenal, namun di antara relawan mudah sekali tumbuh keakrabam karena merasa senasib dalam karya kemanusiaan.
Saat kedua kelompok relawan ini bepisah jalan, kelompok yang bawa pick up membawa bantuan satu pick up penuh; yang bawa truk juga bawa pulang bantuan sebanyak satu truk penuh. Jadi apa kesimpulannya: beriman atau kemaruk?
(Tidak usah ditanggapi serius. Ini hanya cerita ringan saja)

Catatan Ringan Relawan (2)

Photobucket
Supaya tidak tegang terus, baiklah saya ceritakan cerita-cerita ringan seputar karya kemanusiaan dalam merespon bencana Merapi.
****
Sehari setelah letusan pertama, tanpa dikomando, sejumlah pendeta ingin ikut dalam tim tanggap bencana. Mereka sudah siap di posko. Kami segera memuat logistik dan beberapa kebutuhan untuk pengungsi. Kemudian bergegas menuju lokasi bencana. Saat baru berjalan 5 menit, tiba-tiba hand phone teman berbunyi.
"Kalian sampai dimana? Aku kok ditinggal?" teriak salah satu pendeta melalui telepon.
Olala...ternyata ada satu pendeta yang belum naik ke dalam mobil.
"Ya sudah, kebetulan kami sedang berhenti di depan toko besi untuk beli terpal," jawab teman saya, "Bapak menyusul ke sini saja!"
Pendeta itu pun menyusul dengan diboncengkan sepeda motor.
Dalam perjalanan selanjutnya, muncul garauan begini, "Dalam situasi bencana, nilai mie instan lebih berharga daripada pendeta. Kalau mie intannya ketinggalan, maka kita akan kembali untuk mengambilnya. Tapi kalau pendeta yang ketinggalan, nggak ada yang merasa kehilangan."

Cerita Ringan Relawan [1]

Dalam hal tertentu, rasa memiliki yang dimiliki oleh jemaat terhadap gerejanya itu baik. Tapi dalam situasi tertantu, rasa memiliki itu kadang bikin jengkel dan geli. Seperti dalam bencana, misalnya. Jemaat kadang merasa bahwa barang-barang yang ada di posko itu milik mereka sehingga berhak menyalurkan barang sesuai selera mereka tanpa koordinasi.
Pagi tadi terjadi kepanikan karena pemerintah menambah wilayah aman bencana dari radius 15 menjadi 20 km. Akibatnya, pengungsi kocar-kacir dan muncul titik-titk pengungsi baru.
Subuh itu, saya segera mengoperasikan SMS centre gereja untuk mobilisasi nasi bungkus. Selain itu juga membuka dapur umum. Puji Tuhan, ada sekitar 640 bungkus bisa disediakan secara impromptu. Siangnya, kami mengerahkan jemaat untuk memasak. Lalu tiba-tiba kami mendapat kabar bahwa ada anggota jemaat yang tanpa koordinasi dengan posko langsung mengambil puluhan nasi bungkus di dapur umum dan membagi-bagikan sendiri nasi bungkus itu. Hal itu membuat berang koordinator posko.
"Kalau masing-masing orang lancang berbuat sendiri-sendiri, maka planning kita akan berantakan." keluh sang koordinator.
"Oh itu bukan lancang," sahut relawan lain dengan nada bercanda, "bahasa halusnya itu jemaat mengambil inisiatif tanpa diperintah."
Maka suasana yang tegang itu mereda kembali. Kami lalu teringat asal-usul istilah "Inisiatif tanpa diperintah" ini.
Beberapa hari yang lalu, kami mengadakan pertunjukan badut sulap untuk anak-anak pengungsi. Kami menyiapkan 100 bingkisan untuk dibagikan. Karena tidak bisa ikut, maka sya meninggalkan barang tersebut di kolportase gereja. Lalu saya mengirimkan pesan kepada pendeta Ndaru yang akan mbadut supaya mengambi sendiri di gereja.
Rupanya rencana meleset. Sebelum pak Ndaru tiba, sudah ada jemaat yang lebih dulu mengambil bingkisan itu dan membawanya sendiri ke barak pengungsi. Sesampai di barak, dia kebingungan sendiri dengan bingkisan itu. Maka dia langsung menelepon saya.
"Mas, bingkisan ini saya serahkan kemana?" tanya orang itu.
"Siapa yang menyuruh Anda membawa bingkisan itu?" tanyaku kesal, "sekarang Anda sendiri yang kebingungan 'kan?"
Terpaksa saya menghubungi pak Ndaru untuk memberitahukan perubahan ini.
"Gara-gara ada satu orang yang LANCANG, maka banyak orang yang direpotkan," keluhku pada teman semobil.
"Bahasa lugasnya LANCANG, tapi bahasa lebih halusnya adalah mengambil inisiatif tanpa diperintah," celetuk teman seperjalanan
.***
Begitulah kami menertawakan kekonyolan-kekonyolan dalam tugas kemanusiaan. kalau masih bisa menertawakan diri sendiri, maka kami tahu bahwa kami masih waras.
Photobucket

GKI SW Jateng GKI KlatenBlog WawanNulis Yuk