Tampilkan postingan dengan label merapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merapi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juli 2011

Komik Bencana Gempa Bumi

Komik Bencana Gempa Bumi

Cerita tentang peran masyarakat desa saat menghadapi bencana letusan gunung api. Dibuat dan diterbitkan oleh Yayasan IDEP untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat.

Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasi-organisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat
yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang.

Perlu disadari bahwa detik-detik pertama saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar.
Didasari pemikiran tersebut dan sejalan dengan program pengembangan masyarakat yang mandiri, masyarakat sendiri perlu mengetahui secara menyeluruh semua upaya tindakan penanggulangan bencana supaya bisa segera mengambil tindakan yang tepat pada waktu bencana terjadi. Buku ini lebih menekankan tindakan-tindakan persiapan dalam usaha mencegah kemungkinan bencana dan mengurangi dampak bencana.

ISBN : 979-24-1307-3
Edisi Pertama 2005 oleh Yayasan IDEP
Edisi Kedua 2007 oleh Yayasan IDEP
PO BOX 160 Ubud, 80571, Bali, Indonesia
w w w. i d e p f o u n d a t i o n . o r g / p b bm
© Yayasan IDEP
IDEP mempersilahkan kepada lembaga atau perorangan yang bermaksud menggandakan buku ini untuk kepentingan berbagai kegiatan penanggulangan bencana yang non-komersial tanpa mengubah isi buku. Untuk alasan lain, silahkan mengajukan ijin tertulis kepada Yayasan IDEP.
Dikembangkan dengan dukungan dari
BAKORNAS PB, MPBI, UNESCO, USAID, ISDR, IFRC, PMI, OXFAM GB dan Masyarakat Indonesia.
Buku cerita ini adalah bagian dari Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM)

Rabu, 18 Mei 2011

Penampakan Yesus di Sirahan

12974139081001834846
Ini adalah rumah bu Endang, warga desa Sirahan, kecamatan Muntilan, Magelang. Tak pernah terbersit di benak ibu Endang bahwa akan mendapat berkubik-kubik pasir, yang langsung di antar langsung ke rumahnya. Rumahnya berjarak lebih dari 500 meter dari kali (sungai) Putih. Sepanjang sejarah kebencanaan, sungai itu tidak pernah mendapat aliran lahar dingin Merapi.
Akan tetapi dugaannya meleset. Lahar dingin yang biasanya melewati kali Krasak, kali ini justru menyasak (menerjang) kali Putih. Akibatnya, ratusan orang di sepanjang kali Putih terpaksa mengungsi. Melihat itu, bu Endang dengan sukarela membuka pintu rumahnya untuk menampung para pengungsi. Rumahnya cukup besar dan masih ada tanah yang luas untuk mendirikan tenda.
Tanggal 10 Januari Merapi memberikan kejutan lagi. Aliran lahar dingin tidak lagi menuruti aliran sungai tetapi menerabas langsung ke pemukiman penduduk pada malam hari. Unggul, anak laki-laki bu Endang, terpana menyaksikan aliran lahar dingin. "Fantastik!" ujar Unggul. Dia melihat gelombang banjir lahar dingin ini mirip dengan naga yang sedang berdiri. Dengan laju yang sangat cepat naga lahar dingin itu menerjang apa saja yang ada di depannya. Warga menjadi panik dan segera naik ke atap rumah.


Photobucket
Ini adalah jalan aspal yang tergerus aliran lahar dingin
Jalan aspal di tengah kampung yang biasanya menjadi jalan manusia mendadak berubah menjadi jalan air dan pasir. Warga dipisahkan oleh aliran lahar dingin yang sangat deras. Saat kejadian, uami bu Endang berada di seberang jalan, depan rumahnya. Dia segera naik ke atap masjid. Sementara itu bu Endang, Unggul dan warga lain naik ke atap rumah. Hujan turun sangat deras. Malam gelap gulita karena aliran listrik mati. Warga yang mengungsi di rumah bu Endang menjadi panik melihat gelora aliran pasir di  bawah mereka. Bu Endang menyaksikan sepeda motor dan mobilnya telah terseret banjir lahar.
Ada beberapa warga yang akan nekat menyeberangi banjir itu untuk menyelamatkan diri. Namun bu Endang mencegahnya. "Jangan! Kalau kita tetap di sini memang bisa saja mati. Tapi kalau nekat mencebur, kalian juga bisa mati terseret arus, Namun setidaknya kita masih aman di sini. Kita tetap saja di sini sambil menunggu bantuan datang," cegah bu Endang. Dalam hati, dia merasa heran dengan ketenangan dan kejernihan dalam berpikir. Padahal saat itu dia juga sedang mencemaskan keselamatan suaminya. Sementara itu, sang suami berusaha mengabarkan keberadaan dirinya. Dalam kegelapan malam, dia meyorotkan senter ke wajahnya supaya bisa dilihat oleh keluarganya yang ada di seberang. Usahanya membuahkan hasil. Bu Endang melihat posisi suaminya yang sedang nangkring di atas kubah mesjid. Hal ini membuatnya tenang.
Tengah malam, tim SAR akhirnya datang. Namun mereka tidak bisa mendekat karena rakit darurat tidak dapat merapat. Akhirnya mereka hanya bisa melemparkan tali. Tali itu dibentangkan antara rumah bu Endang dengan posisis tim SAR. Dengan berpegang pada seutas tali itu, bu Endang dan warga yang mengungsi di rumahnya merambat pelan-pelan ke seberang. Tubuh mereka terperosok di dalam kubangan lumpur pasir setinggi dada orang dewasa.  Sementara itu suami bu Endang dievakuasi juga dengan tali. Bedanya, dia tidak merambat tetapi meluncur seperti dalam permainan outbound yaitu flying fox.
****
Bu Endang dan suaminya sebenarnya memiliki kesempatan untuk menyelematkan harta bendanya. Sebelum terjadi banjir lahar, bank tempat suami bu Endang bekerja sudah menawarkan untuk mengontrakkan rumah di tempat lain. Akan tetapi mereka menolak.
"Kami bisa saja mengunci pintu dan jendela rumah kami sehingga ketika banjir lahar itu datang, perabotan kami tidak rusak," kata bu Endang. Namun nurani mereka tidak tega melakukan itu. "Saya tidak tega meninggalkan tetangga-tetangga saya," kata bu Endang.
Maka bu Endang membuka rumah untuk menampung pengungsi. Sepedamotor dan mobil dikeluarkan dari garasi supaya bisa menampung lebih dari 200 orang. Dia juga membuka dapur umum untuk memberi makan warga yang mengungsi di rumahnya.
Ketika banjir lahar besar melanda, bu Endang tidak sempat mengunci rumah sehingga daun pintu dan jendela jebol. Mobilnya terhanyut. Sepedamotornya terbenam dalam pasir. Karena sudah  tidak bisa dihuni maka bu Endang mencopot kusen, atap dan barang-barang lain yang bisa digunakan. "Jika nanti bisa membangun rumah lagi, kami tidak memulai dari nol karena sudah punya kusen dan lain-lain," ungkap bu Endang.
Peristiwa ini seolah menggenapi harapan yang disampaikan oleh [almarhum] pdt. Adi saat memimpin Bidston Ucapan Syukur di rumah Bu Endang : "Biarlah keluarga dan rumah yang segar ini dapat menjadi berkat bagi masyarakat sekitar"  Yang menarik, bu Endang ini belum lama menjadi pengikut Kristus, namun sudah mampu menampakkan wajah Yesus dalam kehidupannya.
Keputusan untuk tidak mengungsi dan membuka rumahnya bagi para pengungsi menyebabkan kerugian materi yang tidak sedikit. Meski begitu, bu Endang dan suaminya tidak menyesali keputusannya itu. Warga desa Sirahan, Muntilan ini telah menghayati dan mempraktikkan nasihat St. Paulus, "Janganlah hanya memikirkan diri sendiri. Pikirkan juga orang lain dan apa yang baik baginya."

Foto-foto selengkapnya ada di sini dan video ada di sini.

Photobucket
Delivery order ala Merapi: Pasir langsung diantar ke depan rumah
Photobucket
Terbenam separo

Photobucket
Terlupa?
Photobucket
Depan rumah ini adalah jalan aspal yang tergerus lahar dingin
Photobucket Photobucket PhotobucketPhotobucket Photobucket

Ngebrik itu Nggak Ada Matinya

Ngebrik
Saat erupsi, Merapi menyemburkan lava pijar dan menimbulkan awan panas. Jatuh banyak korban di antara warga yang bermukim di lereng tertinggi Merapi. Para relawan bergegas menolong para penyintas. Lalu terjadilah situasi chaos. Penyebabnya karena ada gangguan komunikasi. Relawan kesulitan berkoordinasi melalui komunikasi radio karena ada orang yang melakukan interferensi gelombang radio. Para relawan sering menyebutnya ngejam.
Dalam komunikasi radio, ada satu kanal gelombang yang digunakan untuk mengirimkan dan menerima sinyal radio secara bergantian. Jika ada dua orang yang mengirimkan sinyal secara bersamaan, maka sinyal yang lebih kuat akan menutup sinyal yang lebih lemah. Atau jika dua sinyal itu sama kuat, maka justru kedua sinyal tidak akan terdengar oleh orang lain. Hal inilah yang dilakukan oleh orang yang ngejam. Dia akan terus-menerus memencet tombol PTT (Push To Talk) sehingga orang lain tidak punya kesempatan untuk berbicara.
Dalam keadaan yang genting, ketika nyawa manusia menjadi taruhannya, justru ada orang dengan sengaja mengganggu komunikasi para relawan. Selain ngejam, ada juga orang yang mengganggu dengan melontarkan komentar-komentar yang tidak pantas. Misalnya, ketika para relawan sedang sibuk mengevakuasi para korban luka-luka, dengan tega ada orang berkomentar: "Wis ben modar sisan" (biar mampus).
Para pemakai radio yang pemula jika mendapat gangguan ini biasanya hanya bisa pindah kanal frekuensi. Mereka tidak bisa menegur pelakunya karena tidak tahu siapa yang melakukannya. Apalagi jika pelakunya menggunakan pesawat Handy Talkie (HT) yang bisa digunakan untuk berpindah-pindah lokas. Namun bagi penggila radio komunikasi, mereka dapat melacak keberadaan 'teroris' di udara ini. Hal ini diungkapkan oleh pa Argo, seorang breaker senior di kota Klaten. Bagi yang telinga breaker yang terlatih, mereka bisa cepat mengenali siapa yang sedang berbicara meskipun orang tersebut belum memperkenalkan diri. Mereka mengenali dari modulasi atau karakter suara. Bagi telinga awam, orang yang sedang berbicara di HT atau rig itu terdengar sama. Tapi bagi yang sudah kampiun, mereka bisa mengenali siapa yang sedang berbicara dan bahkan tahu menggunakan pesawat milik siapa. Misalnya saya biasa berkomunikasi menggunakan rig merek "K." Saat saya meminjam rig punya orang lain, lawan bicara ini langsung bisa menebak, "Mas Wawan menggunakan perangkat milik pak B, ya?"
Para pandemen radio gelombang pendek ini juga bisa memburu lokasi pemancar tertentu. Mereka menyebutnya "Fox Hunting." Di antara komunitas mereka ada kompetisi untuk perburuan ini. Caranya ada salah satu anggota menjadi "buruan" yang bersembunyi. Setelah itu dengan membawa antene pengarah, anggota komunitas yang lain melacak buruan. Karena jammer sudah dianggap keterlaluan maka para relawan Merapi memutuskan untuk memburu pelakunya. Berbekal antene pengarah, diam-diam mulai melacak pelakunya. Ketika lokasinya sudah dekat, tiba-tiba jammer ini mematikan perangkatnya. "Waktu itu pukul 2 pagi. Sinyalnya sudah sangat kuat, tiba-tiba orangnya mematikan pesawatnya," tutur pak Argo.
Tanpa ada sinyal, maka mustahil melacak dan menangkap pelaku. Maka para relawan itu menyanggong di lokasi terakhir. Mereka nongkrong di angkringan terdekat sambil terus menghidupkan alat pelacak. Tiba-tiba pukul 4 pagi, orang ini menghidupkan kembali perangkatnya. Maka relawan pelacak segera melompat dari tempat duduknya dan memburu pelakunya. Hasil pelacakan membawa mereka pada sebuah rumah. Untuk memastikan, mereka mematikan saklar meteran listrik. Tanpa aliran listrik, perangkat pelaku tidak bisa memancarkan sinyal. Relawan kemudian menghidupkan radionya. Ternyata sinyal pengganggu hilang. "Pasti orang ini pelakunya," simpul mereka. Maka mereka langsung menerobos masuk ke dalam rumah dan menangkap pelakunya.
Uniknya, pelakunya adalah seorang anak kecil, namun dia melakukannya atas suruhan bapaknya. Bapaknya ini yang selalu mendampingi sang anak dalam ngejam. "Hebatnya, anak ini punya mental yang kuat. Saat dia ngejam, ada banyak relawan yang memaki-maki anak ini melalui udara, tapi anak ini tidak terpengaruh sama sekali," tutur pemilik toko elektronik Elita.
****
Pada tahun 1980-an, komunikasi via radio ini mengalami masa keemasan. Anak-anak muda saat itu merasa bangga jika bisa menggenggam pesawat CB (Citizen Band).  Mereka cuap-cuap di udara bersama-sama. Jika ingin mengobrol lebih intensif, maka biasanya seseorang mengajak orang lain untuk "mojok." Maksudnya beralih ke frekuensi lain dan mengobrol hanya berdua di sana. Farid Hardja merekam fenomena ini dengan menciptakan lagu "Bercinta di Udara."

Lagu "Bercinta di Udara" dibawakan oleh Warkop
Seiring kemajuan teknologi komunikasi, maka karisma ngebrik ini mulai meredup. Banyak orang beralih ke HP yang jangkauannya lebih luas, lebih privat, lebih praktis dan harganya pun semakin murah. Meski begitu, perangkat komunikasi radio ini tidak lantas menjadi mati. Ternyata masih ada komunitas dan kelompok masyarakat tertentu yang masih memanfaatkan kelebihan perangkat ini. Yang paling banyak adalah komunitas relawan tanggap bencana. Ada keunggulan komunikasi radio yang belum tergantikan. Keunggulannya adalah:
1. Tidak membutuhkan pulsa. Sepanjang setrum baterai masih ada atau masih ada sambungal listrik, maka komunikasi via radio tidak dibatasi waktu.
2. Bersifat serentak. Jika HP hanya menghubungkan 2 perangkat (atau 3 jika conference call), maka komunikasi radio bisa menghubungkan banyak perangkat dalam waktu bersamaan. Dengan sekali pencet PTT, maka kita bisa mengirimkan pesan ke semua pemegang perangkat radio yang memonitor.
3. Tidak tergantung pada BTS dan traffic seluler. Saat gempa mengguncang Jogja dan Jateng tahun 2006, ada banyak menara BTS yang roboh sehingga relawan kesulitan berkomunikasi via HP. Atau jika menara BTS masih berdiri, lalu lintas komunikasi seluler ini melonjak tinggi sehingga pengguna sulit untuk menghubungi atau dihubungi. Kiriman SMS juga terlambat. Hambatan ini bisa dihindari dengan radio komunikasi.
Di samping kelebihan, komunikasi via radio juga memiliki sejumlah keterbatasan:
1. Rentan terhadap gangguan. Seperti uraian di atas, komunikasi radio mudah sekali diganggu baik itu secara sengaja atau tidak sengaja (tertimpa luberan sinyal atau sering disebut kena spleteran).
2. Mudah dikuping. Untuk pembicaraan yang bersifat rahasia maka komunikasi radio ini bisa didengarkan oleh orang lain.
3. Agak ribet. Pengguna harus belajar mengenali fasilitas yang terdapat pada perangkatnya supaya bisa digunakan maksimal. Jika ingin memperluas jangkauan, pengguna bisa menambah antene luar. Akan tetapi supaya hasilnya bagus, ada rumus-rumus tertentu yang harus dihitung. Misalnya berapa panjang kabel dan tinggi
antena.
Kecapekan
Secara pribadi saya mengenal komunikasi radio ini saat menjadi relawan gempa 2006. Setelah itu berhenti agak lama. Saat menjadi relawan pada erupsi Merapi 2010, saya kembali menenteng HT. Setelah masa tanggap darurat selesai, eks relawan ini tetap berkomunikasi dengan radio setiap malam. Beberapa orang kemudian bergabung ke dalam komunitas di udara. Mereka adalah orang-orang yang pernah menjadi relawan gempa dan masih menyimpan perangkat radio. Tak terasa sudah ada sekitar 20 orang yang bergabung dalam frekuensi 147.360 MHz. Kami menamakan jalur ini dengan jalur 'Kemanusiaan, Perdamaian, Cinta Kasih dan Budaya." Hampir semua anggotanya tinggal di kota Klaten.
Breaker
Karena komunitas ini masih baru, maka kami mengadakan Kopi Darat pertama supaya bisa saling mengenal. Selama ini kami hanya bertegur sapa di udara, namun ada yang belum lihat wajahnya. Komunitas ini merupakan gabungan dari breaker yang sudah sangat senior dan breaker pemula.
Komunitas lain yang cukup menarik ada di frekuensi 142.320 MHz yaitu komunitas "Kabar Baik." Setiap subuh mereka mengudara. Menjelang fajar itu mereka mengadakan saat teduh bersama-sama. Ada yang memulai dengan nyanyian, kemudian disambung dengan pembacaan Firman Tuhan, disusul menyanyikan pujian dan diakhiri dengan berdoa syafaat. Jangan bayangkan persekutuan ini berlangsung di satu tempat. Ibadah di udara ini diikuti oleh orang-orang di Solo Raya (Solo, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Womogiri, dll). Masing-masing anggota mengudara dari kota masing-masing. Uniknya, ibadah ini mengalir dengan lancar. Tidak ada yang rebutan ngomong.  Misalnya, saat anggota dari Solo akan menyampaikan Firman, dia meminta anggota yang di Sukoharjo untuk membacakan ayat Alkitab. Orang yang disuruh ini sigap melaksanakan. Usai penyampaian Firman, secara bergiliran para anggotanya menyanyikan pujian. Ada yang lucu-lucu di sini. Ada yang tidak hafal syairnya, ada pula yang nadanya tidak pas. Namun itu tidak menjadi soal. Saat berdoa syafaat, masing-masing anggota mengemukan beban doa masing-masing. Setelah itu, mereka saling mendoakan di udara. Sebuah persekutuan yang indah menjelang fajar!
***
Untuk membeli peralatan komunikasi radio memang tidak murah. Kalau untuk perangkat Handy Talkie (HT), kita harus merogoh kocek sebanyak Rp. 600 ribu s/d Rp. 1,2 juta tergantung merek. Pepatah Jawa mengatakan Jer Basuki Mawa Bea,  ada harga ada rupa. Semakin mahal harganya, kualitas perangkatnya semakin bagus. Meski begitu, akhir-akhir ini kami menemukan HT buatan Cina yang harganya relatif murah tetapi dengan kemampuan yang ngedab-edabi.
Kelemahan HT adalah jangkauannya yang terbatas. Biasanya hanya bisa menjangkau radius 10 km, tergantung lokasi. Untuk daya jangkau yang lebih luas, dibutuhkan pesawat rig. Daya jangkau pesawat bisa lebih dari 100 km tergantung topografi setempat. Sebagai contoh, pesawat rig saya yang ada di Klaten bisa mendengar dan berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di Jawa Timur (Madiun, Ponorogo dll).
Harga rig bervariasi antara Rp. 800 ribu s/d Rp. 2 juta. Kalau hanya punya rig, Anda belum bisa mengudara. Anda masih harus membeli power supply (sekitar Rp. 500 ribu), antenne (Rp. 150-Rp. 400 ribu), pipa dan ongkos tukang antena.
Karena biayanya yang lumayan menguras kantong, maka Anda sebaiknya berpikir masak-masak sebelum menggunakan perangkat ini. Kalau sekadar coba-coba, cobalah untuk menggunakan HT lebih dulu atau membeli rig bekas. Namun meskipun mahal, kami sudah merasakan manfaatnya. Kami bisa bertukar kabar dengan cepat. Kami bisa mendapatkan informasi dengan cepat. Misalnya kami bisa mengetahui kondisi Merapi terkini atau memantau lalu lintas di Klaten dengan mendengarkan frekuensi Polisi Lalu Lintas.
Berikut ini frekuensi pemantauan Merapi:
  • Pos Turgo Asri frek 149.200 MHz untuk pemantauan Kali Boyong dan Kali Code (Yogyakarta)
  • Pos Balerante frek 149.070 MHz untuk pemantauan Kali Woro dan Kali Gendol (Klaten)
  • Pos SKSB frek 149.440 MHz untuk pemantauan Kali Opak, Kali Gendol dan Kuning (Yogyakarta dan Klaten)
  • Pos Kompag freq 148 .280 MHz untuk pemantauan Kali Putih,  Kali Apu, Kali Pabelan dan Kali Blongkeng (Muntilan)

Haru Biru kebo Biru

1301409207312461592
Ada perasaan haru di kalangan relawan saat harus melepas kepergian "Kebo Biru."  Selama lebih dari empat bulan, Kebo Biru ini setia menggendong relawan menyusuri punggung Merapi, menuruni sungai berlahar dingin, menerobos pohon tumbang, dan berkubang lumpur untuk menemani para penyintas erupsi Merapi.
Yang kami panggil Kebo Biru adalah mobil Daihatsu Taft Hi-line berwarna biri milik Krisapndaru, pendeta dari GKJ Pedan. Debutnya dimulai pada hari Rabu, 27 Oktober, dengan menggendong relawan dan logistik membawa bantuan logistik ke titik-titik pengungsian yang dikelola oleh pemerintah, yaitu di Keputran, Dompol dan Bawukan di kabupaten Klaten.  Logistik dimasukkan dalam ruang bagasi di belakang dan ditaruh dalam keranjang besi yang terpasang di atas kap mobil. Setelah itu meluncur ke Boyolali mengarah pada dapur umum yang dikelola oleh Lembaga Bakti Kemanusiaan Umat Beragama (sebuah organisasi lintas iman di Boyolali).
Photobucket
Aksi di Merapi
Beberapa hari setelah erupsi besar, Kebo Biru dipacu radius 5 km dari puncak Merapi untuk melihat kondisi terakhir. Sesampai di hutan wisata Deles, kami disambut kera-kera kelaparan. Mereka adalah hewan liar yang luput dari sengatan awan panas, lava pijar dan hujan batu. Mereka bergerombol di seputaran Kali Woro. Karena tidak membawa buah-buahan, maka kami melemparkan biskuit kering yang biasa kami santap untuk mengganjal lapar. Dengan rakus mereka menyantap makanan pemberian kami. Tampaknya mereka kesulitan mendapatkan makanan karena daya dukung lingkungan belum pulih.
Saat meneruskan ke arah puncak, kami tertegun menyaksikan pemandangan di depan kami. Kami hanya menyaksikan tiga jenis warna yaitu hitam, putih dan abu-abu. Pohon-pohon bertumbangan, hangus terbakar. Seluruh permukaan diselimuti abu vulkanik berwarna putih keabu-abuan.
Jalan yang ada di depan kami hanya cukup untuk satu mobil. Merapi mengepulkan asap putih. Pemerintah belum mencabut status bahaya. Hujan gerimis turun. Kebo Biru bergerak perlahan menapaki aspal yang sudah rusak. Pengendara sepeda motor berboncengan ada di depan kami. Jalan di depan kami terhalang pohon besar yang tumbang. Saat akan menyingkirkan pohon, tiba-tiba petir menyambar di dekat pengendara sepeda motor itu. Suaranya memekakkan telinga. Pengendara sepeda motor terlihat panik, lalu berbalik arah. Kami melihat pohon itu terlalu besar sementara kami kita membawa peralatan pertukangan. Kami memutuskan untuk juga berbalik arah, tapi tidak ada ruang untuk memutar Kebo Biru. Jalan satu-satunya adalah dengan berjalan mundur hingga sampai di jalan besar.
Photobucket
Deles Paska Erupsi
Kebo Biru berfungsi sebagai "mobil komando." Dalam konvoi pembawa bantuan, mobil ini berada di depan. Ini bukan untuk gagah-gagahan atau apa, Kebo Biru ini berfungsi sebagai pengenal bagi para peminta sumbangan di sepanjang jalan menuju lokasi. Saat erupsi, ada banyak portal tiban yang dibuat oleh pengungsi. Setiap mobil yang lewat akan dihadang sebatang bambu yang melintang. Kalau tidak memberi sumbangan "sukarela" jangan harap bisa lolos (Sukarela di sini artinya besarnya uang yang akan disumbang menurut kerelaan pemilik mobil). Hanya mobil relawan yang bisa melenggang. Itu sebabnya kami menempelkan stiker "Derap Kemanusiaan dan Perdamaian" berwarna kuning sebagai penanda. Dengan begitu, iring-iringan mobil di belakangnya bebas dari pungutan swasta.
Saat kami mengadakan penghijauan, Kebo Biru memandu lebih dari 300 relawan mendaki punggung Merapi. Dengan menggunakan empat roda baru yang besar, Kebo Biru menapaki jalan desa Balerante yang menanjak tajam. Tiba-tiba, Kebo Biru kehilangan tenaga. Tanjakan yang biasanya dilalap dengan enteng, hari itu ditapaki dengan terengah-engah. Padahal ada puluhan mobil relawan yang antre di belakangnya. Kami segera melompat turun, mencari batu besar untuk mengganjal ban Kebo Biru. Dengan susah payah, akhirnya Kebo Biru dapat bertengger di desa terakhir, perbatasan dengan Taman Nasional Gunung Merapi.
"Saat sedang melakukan gawe besar, mengapa Kebo Biru malah ngambek?" tanya kami.
Setelah diperiksa, ternyata filter solar sudah kotor. Karena terlalu sibuk beroperasi di posko, maka pemiliknya lupa membersihkan filter.
Multifungsi
Selain menggendong relawan, Kebo Biru juga telah berjasa menjalankan tugas-tugas lainnya.  Selain memberi bantuan logistik, kami juga memberikan hiburan kepada para pengungsi di barak pengungsian Dompol dengan menghadirkan badut sulap.  Hiburan digelar di lapangan sesudah sholat Maghrib. Karena penerangan yang terbatas, maka kami menggunakan jasa lampu Kebo Biru yang disorotkan mengarah kerumunan. Selama pertunjukan berlangsung, mesin mobil dihidupkan supaya aki mobil tidak menjadi soak. Meski dengan cahaya yang remang-remang, namun pertunjukan sulap telah berhasil menerbitkan raut sumringah di wajah para pengungsi.
Saat Klaten diserbu pengungsi karena terjadi erupsi besar, Kebo Biru ini dengan rajin menggendong ribuan nasi bungkus untuk dibagikan ke berbagai barak pengungsian. Biasanya pada pagi hari, setelah mengantarkan anak majikannya ke sekolah, Kebo Biru ini sudah stand by di GKI Klaten sebagai pos utama. Dia sudah siap menerima tugas angkut-angkut. Kebo Biru baru pulang ke kandangnya setelah jam 9 malam.
Photobucket
Kebo Biru juga rela mengusung barang-barang yang disingkiri oleh mobil lain. Saat melakukan survei di Tegalmulyo, salah seorang relawan kami yang bernama Agus Permadi melihat pohon bambu yang dicabut dan dibuang oleh warga setempat. Sebagai seorang botanis, matanya jeli menangkap peluang. Di kota, pohon bambu jenis ini dijual dengan mahal. Maka Agus Permadi memborong semua bambu itu, kemudian meletakkannya dalam rak besi yang terpasang di atap Kebo Biru.
Karena dicerabut seakar-akarnya, maka masih banyak tanah yang terbawa di atas mobil, Saat mobil melaju turun, tanah itu tersambar angin. Sebagian masuk ke dalam mobil melalui jendela yang terbuka karena mobil tidak ber-AC. Sesampai di Klaten, rompi kami berlepotan tanah.
Photobucket
Kejadian serupa terjadi lagi. Kali ini Agus Permadi membeli arang kayu buatan warga desa Tegalmulyo yang terkenal bermutu tinggi. Arang yang diwadahi karung itu ditaruh di rak mobil. Dalam perjalanan pulang, turun hujan yang deras. Air hujan yang membasahi karung berubah berwarna hitam saat bersentuhan dengan arang. Akibatnya, tubuh Kebo Biru diselimuti warna hitam.
Ketika melakukan penghijauan di Deles, lagi-lagi Agus Permadi menaruh satu tandan pisang di rak pisang. Sepanjang perjalanan pulang, Kebo Biru melewati jalan yang rusak. Karena terguncang-guncang, maka buah pisang itu tanggal sesisir demi sesisir di sepanjang perjalanan. Saat sampai di Posko, tandan pisang itu sudah hampir gundul!
"Mukjizat-mukjizat"
Karena sudah berumur, Kebo Biru ini sering mengalami gangguan kesehatan. Suatu kali, dia mengalami kerusakan rem padahal akan digunakan untuk melayat. Tidak ada waktu lagi untuk memperbaiki. Maka dengan modal nekat, kami menghela Kebo Biru itu ke lereng Merapi dengan harapan masih bisa menggunakan perputaran mesin untuk mengerem laju kendaraan. Lagi pula, arah yang dituju adalah di tempat yang lebih tinggi.
"Kita harus beriman bahwa mobil ini akan mengantarkan kita sampai tujuan dengan selamat," kata pak Ndaru, sang sopir, dengan bercanda.
"Ini bukan beriman, melainkan mencobai Tuhan," tukasku.
"Tenang saja. Di dalam mobil ini ada dua pendeta. Pasti doanya manjur," sahut pak Ndaru sambil melirik istriku.
"Huh...enak aja," sergah istriku.
Perjalanan selama 15 menit terasa berlangsung berjam-jam karena diliputi rasa was-was. Berkat penyertaan Tuhan, kami bisa sampai di desa Pijenan (radius 15 km dari puncak Merapi). Sesampai di tempat, pak Ndaru menelepon montir bengkel untuk menyusul dan memperbaiki rem mobil. Kami melayat pada keluarga pendeta yang jemaatnya mengungsi di posko kami. Selama upacara pemakaman berlangsung, para montir memperbaiki rem Kebo Biru.
Kerusakan rem kambuh lagi saat kami akan mengadakan penghijauan di kawasan wisata Deles. Kondisi medannya sangat curam, dipenuhi tanjakan dan turunan tajam. Untuk sampai di lokasi ini, selain dibutuhkan mesin yang tangguh, juga harus punya rem yang pakem. Jika tidak, maka mobil bisa nyungsep ke semak-semak, menghantam tebing atau terjun ke jurang.
Malam sebelum pelaksanaan penghijauan, kami memutuskan untuk rapat koordinasi secara mendadak. Tadinya kami tidak merencanakan untuk mengadakan rapat lagi karena persiapan sudah matang, sehingga kami bisa mengasokan badan. Entah mengapa kami berubah pikiran. Malamnya, Kebo Biru dipanggil dari kandangnya yang berjarak sekitar 20 km dari posko induk. Dalam perjalanan, tiba-tiba remnya blong.
"Untung saja ketahuan saat masih di bawah. Seandainya di terjadi di punggung Merapi, entah apa jadinya," kataku sambil bergidik membayangkan akibatnya. Malam itu juga teman-teman nglembur memperbaiki rem. Setelah beres, kami mengadakan rapat koordinasi di warung lesehan Bendogantungan. Afia Mien, yang baru saja mendarat dari Jakarta, ditemani Erniwi Susanti, menggabung kami.
Paginya, Kebo Biru sudah fit kembali. Dengan gagah dia menggendong Afia, Erniwi. Dan relawan lainnya sampai di punggung Merapi. Jaraknya hanya 5 km dari puncak Merapi. Kegiatan penghijauan yang didukung oleh teman-teman dari Banser NU dan jemaat gereja itu berlangsung sukses.
Saat akan bersiap pulang, ternyata ada 12 relawan yang masih ada di lokasi.  Karena terlalu bersemangat, mereka merangsek masuk ke dasar jurang untuk menanam pohon. Akibatnya mereka kehabisan tenaga untuk naik ke tempat berkumpul. Maka melesatlah Kebo Biru untuk menjemput relawan yang kelelahan. Karena ruang di dalam mobil sudah penuh maka sebagian relawan naik ke atas kap mobil. Kedatangan mobil yang mengangkut relawan ini disoraki gembira.
Kejadian yang lebih mencegangkan terjadi saat pulang dari Balerante.  Kami merasakan getaran mobil yang lebih keras dari biasanya, terutama jika mobil dalam keadaan stasioner (tidak bergerak dengan gigi netral).
"Kayaknya ada yang tidak beres dengan mobil ini," kataku, yang tidak paham soal mesin mobil.
"Iya. Getarannya keras banget," timpal Agus Permadi.
"Nggak apa-apa," kata Ndaru yang menyopir, "saya sudah ngomong dengan mekanik langganan saya. Katanya ini nggak apa-apa."
Sepanjang perjalanan pulang itu kami berdebat soal getaran mobil.
"Kita istirahat makan siang dulu di Prambanan sambil memeriksa mobil," usulku.
Mereka setuju. Sembari menanti pesanan makanan dihidangkan, Bowo dan Ndaru memeriksa bagian bawah. Yang mereka temukan mencengangkan kami!
Sekrup yang mengikat kopel mesin ternyata tinggal 2 biji. Kopel adalah batang besi berputar yang menghubungkan mesin dengan gardan. Normalnya, ada 4 sekrup yang terpasang. Hari itu 2 sekrup telah copot. Tersisa 2 sekrup, dengan kondisi satu sekrup hampir lepas. Jadi kopel itu hanya diikat oleh satu sekrup!
*****
Setelah masa tanggap darurat selesai, maka selesai sudah tugas Kebo Biru. Sebagai koordinator Satgas Bencana saya mengucapkan terima kasih kepada pdt. Krisapndaru yang telah berbaik hati meminjamkan mobilnya. Saya juga berterima kasih juga kepada jemaat di GKJ Pedan yang merelakan pendetanya menjadi sopir kami.
Sekarang Kebo Biru itu telah berganti tuan karena majikan yang lama kesengsem dengan Banteng Merah.  Pada aksi penghijauan ketiga bersama Paguyuban Mitra Multikultur, Banteng Merah telah teruji ketangguhannya: mendaki punggung Merapi, turun ke Kaliworo, dan melandai ke dasar jurang bekas penambangan pasir di Balerante. Meski sudah berganti tunggangan, tapi kenangan kami atas sepak terjal Kebo Biru tak akan terhapus. Adios Kebo Biru!
Photobucket
Photobucket


Photobucket
*******************
Kabar terakhir terasa menyedihkan. Senin malam, sekitar pukul 22, saat dibawa pulang oleh tuannya yang baru, Kebo Biru ini mengalami kecelakaan. Dia menyeruduk tiang lampu lalu lintas di simpang tiga Gondangwinangun. Bemper dan radiator pecah. Akan tetapi pengendaranya tidak tergores sedikit pun.
Kebo Biru

Penghiburan dari Jennifer

Jenifer
Jenifer (10 tahun) terpaksa mengungsi di gereja karena rumahnya diguyur hujan pasir dari gunung Merapi. Bersama-sama dengan anak-anak lain yang mengungsi di aula gereja, Jenifer diajak oleh relawan untuk menggambar. “Adik-adik, silakan menggambar bebas,” kata relawan.
Anak-anak pun asyik menggoreskan pensil di atas selembar kertas putih. Hasilnya, semua anak-anak menggambar gunung yang sedang erupsi. Meski sama-sama menggambar gunung, namun Jenifer menggambar salib besar di depan gunung.
“Apa arti gambar ini, Jenifer?” tanya relawan.
“Artinya salib Tuhan Yesus lebih besar daripada gunung Merapi,” jawab Jenifer.
Kepolosan jawaban Jenifer ini memberi kekuatan kembali kepada para relawan. Selama berminggu-minggu para relawan ini mengalami kelelahan fisik dan mental. Akan tetapi lukisan Jenifer membangkitkan kembali semangat para relawan.
Tiga bulan setelah melukis gunung dan salib itu, Jenifer mengalami kecelakaan. Saat pulang dari sekolah, Jenifer ditabrak sepedamotor. Jenifer  mengalami pendarahan di kepala dan memar di dada. Keesokan harinya, Jenifer dipanggil Tuhan.
Meski masih muda, namun ekpresi iman Jenifer telah menjadi kesaksian hidup dan menguatkan para relawan. Penghiburan yang didapatkan relawan dari jenifer ini sama dengan penghiburan yang diperoleh Paulus dari Filemon. Paulus menulis: “Aku sendiri sudah memperoleh banyak sukacita dan penghiburan dari kasihmu, Saudaraku, karena kebaikanmu telah sering menyegarkan hati umat Allah.” (Flm 1:7 FAYH) Sudahkah kehadiran kita telah memberi berkat pada orang lain? Sudahlah kehadiran kita menjadi penghiburan bagi sesama?

Kesaktian Dunia Maya

Social MediaJangan menyepelekan internet. Media pertemanan di dunia maya ini ternyata dapat digunakan untuk mengumpulkan dana dan menggalang aksi di dunia nyata. Manfaat ini saya dapatkan selama menjadi relawan kemanusiaan bencana Merapi. Sejak terjun sebagai relawan pada akhir bulan Okober 2010, saya berusaha menyempatkan diri untuk mengabarkan kegiatan pos kemanusiaan melalui Facebook, Twitter dan milis yang saya ikuti.
Saat berada di lokasi, sedapat mungkin saya melaporkan perkembangan terbaru melalui pesan teks. Banyaknya menara BTS di lereng Merapi ternyata menguntungkan relawan dalam berkomunikasi, maupun dalam memberikan kabar terkini via Twitter dan Facebook. Selanjutnya, jika sudah sampai di posko maka saya mengunggah foto dan video yang membutuhkan dukungan bandwith lebih besar. Untuk memudahkan koneksi, maka kami memasang wi fi di posko.
Informasi yang diunggah di Facebook ternyata memiliki efek bola salju. Posting-an saya muncul pada dinding (wall) milik lebih dari 1000 teman saya. Ketika saya memberi tanda (tag) pada seseorang, maka posting-an saya juga muncul di semua dinding milik orang-orang yang berteman dengan orang itu. Ketika teman saya membagikan (share) iinfo yang saya unggah, maka semakin banyak orang yang terdedah oleh informasi itu. Demikianlah, lama-kelamaan orang-orang mulai berminat dengan aksi kemanusiaan yang kami lakukan. Satu-persatu mulai berkomentar dan mengirimkan pesan pribadi untuk menanyakan cara intuk memberikan bantuan kemanusiaan, baik itu dari  dari kantong pribadinya, tempat kerjanya, atau gerejanya. Ada yang mentransfer uang, mengirimkan barang, bahkan ada yang mengirimkan pulsa!
Selain itu, kami juga mendapatkan kenalan-kenalan baru melalui jejaring ini. Ada seorang relawan veteran di Jakarta yang rupanya diam-diam memantau dan mengamati kegiatan kami dari jauh. Dia memberikan rekomendasi kepada sebuah gereja untuk menyalurkan bantuannya melalui kami. Padahal kami belum pernah sekali pun bertemu muka dengan muka. Lalu ada seorang perempuan di Jakarta yang berminat bergabung dalam salah satu aksi yang kami selenggarakan. Saya belum pernah bertemu dengannya. Kami hanya berteman dan berinteraksi melalui Facebook. Hingga suatu hari dia menulis pesan bahwa ingin ikut kegiatan kami. Meski waktunya mepet, namun dia berhasil mendapatkan tiket pesawat sehari sebelumnya. Keesokan harinya, dia terbang kembali ke Jakarta usai bergabung dengan kegiatan kami.
Tidak hanya di Indonesia, informasi yang kami sajikan ternyata juga diakses di luarnegeri, seperti di Singapura, Australia, dan Amerika Serikat.
Akan tetapi penggunaan internet juga dapat menjadi kontraproduktif dalam aksi kemanusiaan. Saat memulai proyek pembangunan rumah inti bagi korban gempa di Jawa Barat, kami mendapatkan resistensi dari salah satu kelompok masyarakat di luar penerima manfaat. Mereka mengkhawatirkan bahwa bantuan kemanusiaan ini dapat mengusik kemapanan di sana. Kami masih diizinkan melanjutkan proyek kemanusiaan ini, tetapi dilarang mempublikasikan kegiatan kami. Kami menyetujui syarat ini karena kami memang tidak mencari publisitas dalam aksi ini.
Akan tetapi ternyata ada perbedaan persepsi soal terminologi "publikasi" ini. Kelompok penentang ini memprotes ketika kami memberikan informasi kegiatan kami melalui jaringan Facebook. Menurut mereka, kami telah melanggar komitmen dengan publikasi. Namun kami memiliki argumen lain. Yang dimaksud dengan publikasi adalah pemberitaan melalui media massa. Sedangkan Facebook adalah media jejaring sosial, bukan media massa. Melalui jejaring sosial ini kami memberikan laporan kepada teman-teman dan lembaga-lembaga yang ikut menyumbang dalam proyek ini. Kami harus memberikan laporan perkembangan proyek kepada pihak-pihak yang selama ini mendukung kami. Ini adalah bagian dari pertanggungjawaban.
Situasinya menjadi semakin genting ketika salah satu posting di milis kami ternyata dapat dibaca oleh kelompok masyarakat yang menentang proyek kami. Sebenarnya milis yang kami ikuti sudah dibuat tertutup sehingga hanya anggota milis yang bisa membaca. Namun rupanya ada anggota milis yang meneruskan percakapan dalam milis kami ke milis lain yang diikutinya. Milis ini dibuat terbuka sehingga semua orang bisa membacanya. Sebenarnya informasi yang "bocor" itu biasa saja dan bersifat moderat jika dibaca dalam konteks kekristenan. Namun ketika dibaca oleh pihak yang memang sudah menarih kecurigaan, maka posting yang bocor itu seakan memperkuat dugaan mereka selama ini. Maka situasi lapangan menjadi heboh sehingga kami harus melakukan klarifikasi ke panglima "laskar tiga huruf."
Celakanya lagi, informasi yang kami unggah itu dijadikan amunisioleh pihak lain  untuk menyerang kami. Mereka memelintir informasi yang ada untuk mendukung klaim-klaim mereka. Misalnya, mereka memelintir foto sekolah keagamaan yang rusak karena gempa. Kami memotret bangunan itu  saat survey dan mengunggahnya untuk menunjukkan dampak gempa terhadap bangunan. Akan tetapi mereka membuat isu bahwa kami mengklaim telah membangun sekolah keagamaan itu. Selain itu, masih ada lagi informasi yang kami unggah, yang kemudian mereka olah dan disajikan dalam sajian yang "hot."
Meski pernah mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan namun secara pribadi saya tidak trauma untuk memanfaatkan dunia internet sebagai alat bantu dalam aksi kemanusiaan. Yang perlu kami lakukan adalah lebih bijak dan berhati-hati dalam mengunggah informasi.

Catatan Ringan Relawan (6)

Merapi
Handphone memiliki peran yang vital dalam kegiatan tanggap bencana di Merapi baru-baru ini. Meski sudah ada alat komunikasi radio (handy talkie dan rig), namun untuk berkomunikasi jarak jauh, HP benar-benar membantu kerja para relawan. Para pengguna telepon nir kabel ini cukup beruntung karena hampir semua wilayah di lereng Merapi dapat dijangkau oleh sinyal HP.
Para relawan biasanya mengantongi lebih dari satu ponsel. Hal iIni untuk mengantisipasi jika salah satu operator seluler kehilangan sinyal. Alasan lainnya adalah untuk menghemat pulsa. Jika akan menghubungi nomor tertentu, mereka akan menyesuaikan dengan menggunakan operator yang sama. Apalagi saat ini ada HP yang memiliki fungsi nomor ganda dalam satu pesawat. Biasanya relawan mengantongi HP GSM dan HP CDMA.
Meski bermanfaat, namun HP kadang merepotkan. Bentuknya yang mungil dan banyaknya hal yang harus dikerjakan kadang membuat relawan lupa meletakkan HP. Mereka sebenarnya sudah mengantisipasi dengan memakai rompi dengan banyak saku. Masih ditambah dengan tas pinggang dan ransel. Ini pun juga bisa merepotkan. Banyaknya tempat penyimpanan kadang juga membuat ribet ketika akan mencari HP.
****
Pada awal erupsi Merapi, kami sudah melakukan aksi tanggap bencana. Saat sedang istirahat makan, tiba-tiba ada telepon masuk dari sebuah stasiun radio. Mereka meminta wawancara yang disiarkan secara langsung.  Maka saya menyingkir ke tempat yang lebih sepi supaya bisa melayani wawancara. Di akhir wawancara, saya sudah ditunggui oleh relawan lain untuk melanjutkan perjalanan. Maka saya pun terburu-buru melompat ke atas mobil.
Setelah sekian menit perjalanan, saya meraba-raba saku rompi mencari HP kedua (saya membawa dua HP.  HP pertama bernomor ganda,  HP kedua bernomor tunggal). Ternyata tidak ketemu. Aduh dimana nih? Saya coba menelepon nomor HP kedua. Tersambung, tetapi tidak terdengar suaranya di dalam mobil. Saya mengambil kesimpulan HP itu ada di luar mobil. "Jangan-jangan HPku jatuh saat berlari ke mobil tadi," batinku dengan lemas.
Saya menyampaikan hal ini kepada relawan yang lain. Mereka memutuskan untuk kembali ke tempat kami beristirahat untuk mencari HP saya. Saat itu sedang hujan gerimis ketika para relawan ramai-ramai mencari di tanah lapang dan semak-semak. Saya mencoba menelepon HP saya supaya berbungi, namun nomor tidak dapat dihubungi. Saya pun pasrah. Saya memperkirakan HP itu ditemukan seseorang yang kemudian mematikan HP itu. Saya pun melakukan upaya terakhir dengan mengirimkan SMS ke nomor saya, dengan pesan: "Jika Anda menemukan HP ini, tolong dikembalikan ke [alamat saya]."
****
Di akhir tanggap bencana, kejadian serupa terjadi lagi.Bahkan peristiwanya juga setelah beristirahat di sebuah warung makan. Dalam perjalanan, dia kebingungan mencari HP-nya. Nomornya sudah dihubungi tetapi deringnya tidak terdengar di dalam mobil. Kesimpulan sementara, HP ketinggalan di warung makan. Untung dalam nota pembayaran tercantum nomor HP pemilik warung. Maka dia menelepon pemilik warung untuk menanyakan apakah ada HP yang ketinggalan.
"Sebentar ya pak, kami cari dulu," jawab pemilik warung.
Tak lama kemudian pemilik warung menelepon untuk mengabarkan bahwa tidak ada HP yang ketinggalan.
Cerita ketiga ini masih soal HP. Tanggal 15 Desember kami diundang untuk mengisi salah satu stan dalam Pameran dan Bursa Pelayanan kepada Wasior, Mentawan dan Merapi. Kami diundang oleh Yakkum.
Dalam pameran itu, kami menampilkan foto-foto kegiatan. Lalu supaya menarik perhatian, kami sengaja mendatangkan sepeda motor yang hangus terbakar oleh awan panas. Kami juga mengarungi lahar Merapi dan mengangkut kayu-kayu yang terbakar. Tak lupa peralatan rumah tangga yang juga hampir melelah. Usai pameran, kami menaikkan semua barang itu ke atas mobil operasional.
Saat bersiap pulang, seorang relawan kebingungan mencari HP-nya. Saat ditelepon, tidak terdengar deringnya. Sepanjang perjalanan pulang, wajah relawan ini terlihat suram padahal biasanya dia gemar bercanda.
Photobucket
Pameran di Paragon, Solo
Photobucket
Sepeda motor yang terbakar.
****
Lalu bagaimana nasib ketiga HP itu?
Dalam kisah pertama, ternyata HP itu tersimpan di dasar ransel dan dalam mode getar sehingga dering tidak berbunyi ketika dipanggil.
Dalam kisah kedua, HP juga tersimpan di dalam tas. Akan tetapi dering HP tidak terdengar karena kalah oleh suara mesin mobil.
Dalam kisah ketiga, keesokan harinya, pagi-pagi benar sang relawan sudah nongkrong di posko. Dia mengobok-obok dan mengaobrak-abrik barang-barang sisa pameran yang masih ada di atas mobil operasional. Akhirnya HP itu ketemu juga. Rupanya HP itu tercecer saat dia menaikkan barang pameran ke atas mobil.
Akhirnya, kisah HP ini berujung pada happy ending.
Photobucket
__________________All About Writings

Catatan Ringan Relawan (5)

KaligendolKepuasan terbesar relawan adalah ketika bisa meringankan beban penyintas bencana. Maka ketika mendengar di tempat tertentu ada pemyintas membutuhkan bantuan, maka adrenalin relawan terpacu. Mereka akan bergegas menuju lokasi untuk mengulurkan tangan.
Hal yang sama terjadi pada bencana erupsi Merapi ini.  Saat erupsi besar, tanggal 4 Nopember, mendadak timbul gelombang pengungsian. Mereka membutuhkan membutuhkan makanan siap santap dalam jumlah yang besar. Yang mengharukan, situasi kritis ini direspon masyarakat dengan sangat cepat. Tanpa dikomando dari pusat, namun berdasarkan solidaritas, mereka membuat nasi bungkus untuk dibagikan kepada pengungsi. Pada awalnya jumlah nasi bungkus hanya ratusan buah. Namun hari-hari berikutnya, jumlahnya bertambah drastis. Bahkan sampai mencapai puluhan ribu. Akibatnya, kami kewalahan mendistribusikan nasi bungkus.
Sebenarnya kami sudah mengatur distribusi nasi bungkus sesuai dengan jumlah pengungsi yang kami layani, sehingga jumlahnya sudah pas.  Namun seringkali ada donatur yang menurunkan ratusan nasi bungkus secara mendadak.  Jika mereka memberitahukan sebelumnya, kami punya waktu untuk menghubungi tempat-tempat pengungsian lain untuk menawarkan nasi bungkus.
Suatu hari, kami harus mendistribusikan 1000 nasi bungkus di luar bantuan yang biasa kami salurkan. Kami sudah menghubungi tempat pengungsian di barak Dodiklatpur (Komando Pendidikan dan Latihan Tempur) di Wedi, Klaten. Mereka bersedia menerima.  Ketika kami sampai di sana,  baru saja ada bantuan nasi bungkus sebanyak satu truk yang diturunkan di sana.  Nasi bungkus kami tidak laku. Kami harus mencari sasaran baru, sebab nasi bungkus ini adalah amanat dari donatur. Kami wajib menyalurkan ke pihak yang membutuhkan.
“Di Ceper ada tempat pengungsian butuh 400 nasi bungkus. Cepat kirim ke sana!” Perintah Agus Permadi, koordinator posko.
“Saya makan dulu ya,” kata seorang relawan yang menjadi sopir.
“Kalau makan dulu, nanti keburu didahului bantuan dari pihak lain,” sergah relawan,” sudah, kamu makan saja, aku yang menyetir.”
Demikianlah, dengan perjuangan berat, malam itu kami sukses menyalurkan 1000 nasi bungkus ekstra. Mengingat kembali peristiwa itu, saya tersenyum sendiri. Baru kali ini ada orang-orang yang berebut memberi bantuan.
Ini berbeda sekali dengan bencana gempa tahun 2006. Saat itu, penyintas yang “rebutan” bantuan, terutama yang berada di wilayah “pedalaman.” Melihat situasi ini, kami sengaja mencari blank spot, yaitu titik-titik yang belum terjamah bantuan.
Suatu hari, ada dua relawan yang dengan bersemangat berangkat dari posko mengendarai sepeda motor pinjaman. Mereka mendengar di wilayah tertentu belum terjamah bantuan. Misi dua orang ini adalah melakukan survei untuk memutuskan apa saja yang perlu dibantu dan berapa saja jumlahnya. Dengan semangat pejuang 45 mereka menyusuri pematang sawah dan melintasi jalan desa yang becek.
“Wah, tempatnya benar-benar sulit dijangkau nih,” kata satu relawan pada temannya. Mereka membayangkan akan punya cerita seru dan heroik untuk dibagikan [dan dipamerkan] pada relawan lainnya di posko nanti.
Sesampai di lokasi dan melakukan pendataan, tiba saatnya untuk pulang. Mereka bersiap menyusuri rute semula.
“Lho, kok lewat situ?” tanya warga heran. “Ada kok jalan lain yang lebih enak.”
Olala…ternyata ada jalur lain yang jauh lebih mulus dan mudah dilalui menuju ke posko induk. Maka, pupuslah angan-angan untuk memamerkan kisah heroik mereka.

Catatan Ringan Relawan (4)

Photobucket
Di pos kemanusiaan Klaten, ternyata ada banyak relawan yang bernama "Agus" dan "Bambang."  Jadi kalau ada orang yang mencari "Agus" pasti akan ditanya "Agus yang yang mana?" Hal ini mengingatkan saya empat tahun yang lalu. Saat itu kami juga membuka pos kemanusiaan. Suatu kali ada tenaga paramedis dari Kalimantan Tengah, tepatnya dari R.S. Bethesda Serukam yang datang ke pos kami.
"Saya mencari pak Agus," kata paramedis perempuan itu.
"Agus siapa ya?" jawab salah seorang relawan.
"Memangnya ada berapa Agus di sini?" tanya paramedis heran.
"Oh di sini semua orang dinamai Agus," jawab relawan. Sifat usilnya muncul. "Di sini, nama Agus itu semacam gelar. Jadi ada yang namanya Agus Permadi, Agus Handoyo, Agus Mulia, Agus Wawan, Agus Joko. Biar lebih sopan, setiap kali memanggil orang di sini, harus pakai nama Agus."
Umpan ternyata disambar. Paramedis itu percaya. Sejak saat itu, dia memanggil semua orang dengan nama Agus.
Beberapa bulan kemudian, ketika paramedis ini pamitan pulang, kami melakukan pengakuan dosa di hadapannya.
*****
Seorang hamba Tuhan datang ke pos kemanusiaan kami. Dia mengaku sudah direkomendasi oleh sebuah badan kerjasama antar gereja. Mula-mula kami percaya, karena dia menyebutkan nama seorang pendeta yang sudah kami kenal. Lama-lama, kami mulai meragukan kejujurannya.  Maka kami menghubungi pendeta yang disebut namanya itu. Kebetulan pendeta ini juga selaku pengurus badan kerjasama antar gereja yang disebut-sebut itu. Pendeta ini heran karena hamba Tuhan ini baru terlibat sekali dalam badan kerjasama antar gereja, yaitu sebagai panitia Natal.
Pendeta menelepon hamba Tuhan itu.
"Selamat pagi pak. Saya mendapat informasi, bapak mendapat rekeomendasi dari (menyebutkan nama badan kerjasama antar gereja). Apakah benar," tanya sang pendeta.
"Benar pak. Saya mendapat rekomendasi dari pdt. X," jawab hamba Tuhan di seberang.
"Saya ini yang bernama pdt. X itu," sahut pendeta X.
"Tut..tut...tut..." Sambungan telepon langsung diputus.
******
Ada orang Kristen mengirimi SMS kepada saya. Dia mengaku sedang mengelola 20.000 pengungsi yang belum mendapat bantuan. Dia minta bantuan. Namun ada yang ganjil di sini. Dengan angka sebesar itu dan dengan membanjirnya bantuan, hampir mustahil kalau masih ada puluhan ribu yang belum mendapat bantuan. Jika angkanya ratusan mungkin saya masih percaya. Tapi ini puluhan ribu. Saya lalu membalasnya: "Apakah angkanya sudah benar? Satu barak pengungsi yang dikelola pemerintah saja, kapasitas maksimalnya hanya 2000 orang. Itu pun sudah membuat kewalahan. Jika Anda mengelola 20.000 (baca: "dua puluh ribu") pengungsi, maka itu setara dengan 20 barak pengungsi milik pemerintah. Pemerintah kabupaten Klaten saja hanya mengelola 3 barak pengungsi."
Orang ini tidak pernah membalas SMS saya. Saya lalu merenung: Pos kemanusiaan kami yang menampung 600 orang saja sudah membuat kami keawalahan, padahal sudah disengkuyung oleh empat gereja (GKI Klaten, GKJ Klaten, GKJ Gondangwinangun dan GKJ Pedan). Ketika ada gereja yang menyatakan bisa melayani ribuan bahkan ratusan ribu pengungsi, itu membuat saya geleng-geleng kepala: antara percaya dan tidak percaya.
__________________

Catatan Ringan Relawan (3)

Bantuan
Ada dua kelompok relawan yang sama-sama menerima bantuan dari lembaga amal bentukan stasius TV. Mereka harus mengambil sendiri bantuan di home base lembaga amal ini. Satu kelompok relawan membawa truk, sementara kelompok relawan yang lain hanya membawa pick up kecil. Maka terjadilah dialog berikut:
"Mengapa kamu bawa mobil kecil?" tanya relawan yang bawa truk kepada relawan yang bawa pick up.
"Memangnya kenapa?" Relawan yang bawa pick up balik bertanya.
"Itu namanya kamu nggak beriman."
"Kok bisa?"
"Bukankah ada firman Tuhan yang berkata: Jadilah kepadamu menurut imanmu. Kalau kalian bawa mobil kecil maka kalian akan diberi bantuan sedikit,"jelas relawan yang bawa truk. "Lihat nih, kami bawa truk yang muat banyak. Sang pemberi bantuan tentu tidak enak kalau beri bantuan sedikit karena mobil akan kelihatan kosong. Kami bawa truk karena mengimani akan dapat banyak."
"Itu sih bukan beriman, itu namanya kemaruk," sergah relawan yang bawa pick up.
Mereka tertawa bersama-sama. Begitulah gambaran situasi di dalam bidang kemanusiaan. Di antara relawan ada saling canda untuk menghilangkan ketegangan dan sejenak melupakan keletihan. Meski belum saling kenal, namun di antara relawan mudah sekali tumbuh keakrabam karena merasa senasib dalam karya kemanusiaan.
Saat kedua kelompok relawan ini bepisah jalan, kelompok yang bawa pick up membawa bantuan satu pick up penuh; yang bawa truk juga bawa pulang bantuan sebanyak satu truk penuh. Jadi apa kesimpulannya: beriman atau kemaruk?
(Tidak usah ditanggapi serius. Ini hanya cerita ringan saja)

Catatan Ringan Relawan (2)

Photobucket
Supaya tidak tegang terus, baiklah saya ceritakan cerita-cerita ringan seputar karya kemanusiaan dalam merespon bencana Merapi.
****
Sehari setelah letusan pertama, tanpa dikomando, sejumlah pendeta ingin ikut dalam tim tanggap bencana. Mereka sudah siap di posko. Kami segera memuat logistik dan beberapa kebutuhan untuk pengungsi. Kemudian bergegas menuju lokasi bencana. Saat baru berjalan 5 menit, tiba-tiba hand phone teman berbunyi.
"Kalian sampai dimana? Aku kok ditinggal?" teriak salah satu pendeta melalui telepon.
Olala...ternyata ada satu pendeta yang belum naik ke dalam mobil.
"Ya sudah, kebetulan kami sedang berhenti di depan toko besi untuk beli terpal," jawab teman saya, "Bapak menyusul ke sini saja!"
Pendeta itu pun menyusul dengan diboncengkan sepeda motor.
Dalam perjalanan selanjutnya, muncul garauan begini, "Dalam situasi bencana, nilai mie instan lebih berharga daripada pendeta. Kalau mie intannya ketinggalan, maka kita akan kembali untuk mengambilnya. Tapi kalau pendeta yang ketinggalan, nggak ada yang merasa kehilangan."

Kamis, 27 Januari 2011

Menghijaukan Merapi [2]

1296066100942546374
Penghijauan di wilayah sekitar Deles ternyata lebih sulit daripada di Balerante, baik itu dari medannya maupun pelaksanaannya.
Hari Sabtu, 22 Januari, pukul 7:30, kami memberangkatkan relawan gelombang pertama yang terdiri dari rombongan GKJ, Banser NU, dan tim inti Satgas "Derap Kemanusiaan dan Perdamaian" (DKP) dari GKI Klaten. Beberapa rombongan relawan juga berangkat dari tempat lain, yaitu GKJ Gondang, GKJ Manisrenggo, GKJ Karangnongko dan Banser di sekitar Kemalang. Mereka langsung bergerak ke lokasi penanaman.
Sedangkan saya masih tinggal di Klaten untuk menunggu rombongan dari GKI Klasis Semarang Timur dan Barat. Mereka sudah meluncur ke Klaten sejak pukul 4:30, namun di Boyolali, mereka "pecah kongsi." Rombongan pertama lewat Jatinom, sedangkan rombongan kedua melewati Delanggu yang lebih jauh.
Pak Yus yang berada di rombongan kedua menelepon. "Kami baru sampai Penggung. Kami tidak usah ditunggu. Ditinggal saja tidak apa-apa, nanti kami menyusul," katanya.
"Tenang saja pak," kata saya, "kami tunggu pak. Saat ini kami masih menunggu kedatangan dua relawan dari Jakarta." Mereka adalah dua pemuda utusan GKI Wahid Hasyim yang menumpang pesawat paling pagi. Rombongan pak Yus dan dari Jakarta datang hampir bersamaan. Tanpa membuang banyak waktu, saya segera memimpin mereka beriring menuju lokasi.
Cuaca sedikit mendung, namun tidak hujan. Di satu sisi menguntungkan karena relawan tidak terpapar panas matahari. Namun di sisi lain, pemandangan ke arah puncak Merapi terhalang mendung dan kabut. Padahal jika cuaca sangat cerah, rekahan bibir puncak Merapi terlihat dengan sangat jelas di lokasi penghijauan.
Memasuki desa Tegalmulyo, konvoi mobil merayap pelan karena jalan menanjak. Saat memasuki tikungan berbentuk huruf "L", tiba-tiba jalan menanjak. Sopir mobil saya terlambat mengoper ke gigi satu. Saya segera melompat turun, mengambil batu besar untuk mengganjal roda mobil supaya tidak melorot ke bawah. Karena berhenti mendadak, mobil yang ada di belakangnya juga kagok. Sementara dari arah atas, ada seorang ibu menunggang sepedamotor sambil memboncengkan pakan ternak. Dia menjadi panik melihat banyak mobil yang tiba-tiba keluar dari tikungan.

Photobucket
Mobil pengangkut relawan

Rabu, 26 Januari 2011

menghijaukan Merapi [1]

12960163082064542710
Setelah sukses menanam lebih dari 25 ribu bibit pohon di desa Balerante Klaten, pemuda gereja dan Banser NU Klaten akan kembali menghijaukan lereng Merapi. Kali ini dengan lokasi yang berbeda, yaitu di desa Tegalmulyo, kecamatan Kemalang, Klaten.  Penanaman akan dilaksanakan Sabtu, 22 Januari 2011 mulai pukul 8.
Deles dipilih sebagai lokasi penenaman berikutnya karena belum ada pihak yang "menjamah" tempat wisata ini. Sebagai persiapan, tanggal 17 Januari kami melakukan survei di lokasi dengan diantar oleh mas Sukarno, anggota Banser dari kecamatan Kemalang. Dengan mengendarai sepeda motor matik, mas Karno memandu mobil kami menuju desa Sidorejo. Dari tempat wisata Deles Indah masih naik ke arah dusun Pring Cendani. Di wilayah ini sudah tidak ada lagi pemukiman warga karena berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Hampir tidak ada lagi pohon keras yang utuh karena terbakar awan panas dan ambruk tidak kuat menahan terpaan material Merapi.
Jalan menuju lokasi sudah diaspal, namun sudah rusak dan terjal. Batu-batu pelapisnya lepas ketika diinjak. Hal ini akan menyulitkan truk pembawa bibit pohon. Maka kami memutuskan untuk melihat lokasi yang kedua, yaitu di desa Tegalmulyo. Di sini kondisinya "lebih mendingan" daripada desa Sidorejo. Wilayah yang tersambar awan panas tidak begitu luas. Tapi tak ayal pohon-pohon besar bertumbangan karena dihempas material vulkanik.
Photobucket
Puncak Merapi terlihat begitu dekat dari dusun Pajekan, Tegalmulyo, Kemalang, Klaten.
Photobucket
Ini adalah jalur pendakian ke puncak Merapi.


Hari berikutnya, kami menemui perangkat desa Sidorejo untuk menyampaikan keinginan kami menanami wilayah mereka. Sambutan mereka dingin dan tidak menunjukkan antusiasme. Mereka malah menyuruh kami pergi ke kantor kehutanan. Hal ini cukup mengecewakan kami. Dengan hati kesal, kami pun menuju ke kantor kehutanan di Kemalang yang ternyata kosong dan terkunci. Tidak ada pegawai yang masuk kantor yang masih baru itu.
Dengan hati kesal, kami bergerak melambung ke kanan menuju balai desa Tegalmulyo. Ternyata balai desa sudah tutup meski jarum jam belum menunjukkan pukul 12. Karena sudah jauh-jauh ke sini, kami memutuskan untuk mencari kepala desa di rumahnya. Ternyata ada. Namanya pak Sutarno. Berbeda dengan perangkat desa Sidorejo, pak tarno menyambut kami dengan antusias. Dia menawarkan wilayahnya yang terdampak erupsi Merapi untuk ditanami.
Namun karena wilayah ini juga berbatasan dengan TNGM, maka dia langsung menelepon pihak pengurus TNGM untuk berkoordinasi. Ternyata untuk menanami wilayah TNGM kami harus menulis surat dan pegi ke kantor TNGM yang ada di Kaliurang, Yogyakarta.
"Kalau urusannya ribet, sudahlah kita menanam di desa Sidorejo saja," usul saya. Teman-teman dan pak Tarno setuju. Maka kami lalu menetapkan Sabtu, 22 Januari sebagai pelaksanannya.
Persiapan
Tiga hari sebelum pelaksanaan, tepatnya hari Kamis, kami mengirimkan 22 bibit pohon ke lokasi penghijauan. Bibit-bibit itu meliputi 2000 trembesi, 3450 sengon laut, 550 sengon cyclo, 1000 mindi, 3000 akasia, 1000 cengkeh, 1000 jambu biji, 2000 sirsak, 1000 damar, 1000 kelengkeng, 5000 jabon,1000 kayumanis. Untuk mengangkut bibit sebanyak ini dibutuhkan 2 truk dan satu pick up.
Karena lokasinya yang sangat tinggi, dari puncak Merapi hanya sekitar 5 km, maka mobil pengangkut terseok-seok membawa beban berat. Di pintu masuk desa, truk pengangkut sudah menyerah. Tak kuat lagi menanjak. Tak ada pilihan lain selain mengurangi muatan. Separo bibit diturunkan supaya teruk bisa menanjak ke dusun Pajekan.
Photobucket
Menurunkan sebagian bibit karena truk tidak kuat lagi menanjak
Photobucket
Bibit yang akan ditanam. Hujan mulai turun. Kabut mulai melingkup
Sementara itu mobil yang kami tumpangi juga menurunkan 300 kg beras dan minyak goreng di salah satu rumah warga. Rumah ini akan digunakan sebagai dapur umum untuk menyediakan makan siang bagi relawan.
Jumat malam, kami mulai menghitung relawan jumlah relawan akan ikut aksi ini. Ternyata jumlahnya cukup mencengangkan. Banyak pihak yang menyatakan berminat bergabung.  Aksi yang digalang Satgas "Derap Kemanusiaan & Perdamaian” ini akan didukung oleh Bantuan Serbaguna Nahdatul Ulama (Banser NU) di Klaten, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Klaten, Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Klaten, Pedan, Gondangwinangun, Manisrenggo dan Karangnongko. Selain itu, masih ada relawan luar kota yang menyatakan minat untuk bergabung. Dari Jakarta ada tiga orang yang bergabung. Satu orang atas nama pribadi dan dua orang utusan dari GKI Wahid Hasyim. Dari Semarang, GKI Klasis Semarang Barat dan Timur juga akan memberangkatkan relawannya, yang dikoordinasi oleh Yus dan Pdt. Rahmat. Sementara itu Deni mengkoordinasi relawan GKI Boyolali untuk merapat ke Merapi.  Masih ada lagi relawan perseorangan Solo.
Ditotal, jumlanya mencapai 400 orang. Di satu sisi kami senang dengan jumlah ini. Di sisi lain, kami dipusingkan dengan masalah pengaturan parkir. Jalan yang ada lokasi penghijauan sangat sempit, menanjak dan hampir tidak ada tempat parkir. Penyediaan makan siang juga harus dipikirkan. Kami sudah meminta kepada warga setempat untuk memasak makan siang. Pesoalannya bagaimana cara membagi makannya. Kalau berupa nasi bungkus, warga setempat tidak punya tenaga untuk  membungkusi nasi sebanyak 400 buah. Namun jika menggunakan cara prasmanan, kendalanya tidak ada tempat yang cukup luas untuk menampung relawan.  Kami memutuskan untuk memilih cara prasmanan namun dengan bergiliran per kelompok.
Rapat pesiapan ini dilakukan sambil makan malam di warung lesehan pak Waris, dekat lampu merah Bendogantungan. Saat asyik-asyiknya rembugan, tiba-tiba Afia Mien menelepon. Afia adalah relawan perseorangan dari Jakarta. Dia baru saja mendarat di bandara Jogjakarta dan dijemput Erni. temannya dari Solo. Karena delay, dia baru mendarat sekitar pukul 8 malam. Afia menanyakan tempat penginapannya.
"Anda naik apa?"
"Naik bis."
"Turun saja di lampu merah Bendogantungan. Kami sedang makan malam dekat situ. Nanti kami antar ke tempat penginapan." Demikian saran saya. Seperempat jam kemudian, Afia dan Erni sudah sampai dan langsung bergabung dengan kami menikmati bebek goreng.
Pukul sembilan malam, rapat koordinasi ala relawan pun usai. Usai mengantar Afia dan Erni, kami pulang untuk beristirahat. [bersambung]
[Oh ya, ada satu hal yang terlupa. Saat meluncur menuju posko, rem mobil Taft Hiline yang menjadi mobil operasional kami ternyata blong. Untung (orang Jawa selalu beruntung 'kan) kerusakan ini diketahui sebelum kami naik ke Merapi. Bayangkan jika malam itu tidak ada rapat koordinasi dan mobilnya langsung ke Merapi yang curam. Hiiiiii......ngeri.  Kami tidak menceritakan soal rem blong ini pada Afia dan Erni yang pada hari H menumpang mobil ini. Mungkin mereka belum tahu sampai membaca blog ini karena sepanjang perjalanan wajah mereka terlihat tenang. Bahkan sempat tertidur, sementara kami berdebar-debar]
Baca juga:
Deles [Mulai] Indah
Kolaborasi Gereja dan Banser NU 

Sabtu, 22 Januari 2011

Deles [mulai] Indah

12952650431688347025
Foto-foto oleh Purnawan Kristanto


Bonus yang didapatkan oleh relawan Merapi adalah kesempatan melihat pemandangan Merapi yang menakjuban. Tidak setiap hari Merapi menampakkan figurnya secara kasat mata. Dia lebih banyak menyelimuti dirinya dengan kabut atau mendung yang tebal. Hari ini, Senin 17 Januari, kami mendapat kesempatan menikmati keindahan lekuk-lekuk Merapi sepuas-puasnya.
Pukul setengah delapan pagi kami sudah meluncur dengan dua mobil ke arah Kemalang. Agenda kami adalah men-survei kondisi alam sekitar tempat wisata Deles Indah paska erupsi. Kami memiliki rencana untuk menanami lagi wilayah tersebut. Setelah sarapan pagi di Karangnongko, tempat mangkal sopir truk pasir, kami menemui mas Sukarno lebih dulu. Dia adalah anggota Banser NU di kecamatan Kemalang yang akan memandu kami dengan sepeda motor Beat-nya. Dengan lincah, mas Karno meliuk-liuk menghindari lobang di jalan mengarah ke Deles. Wilayah yang masuk di bawah radius 10 km dari puncak Merapi ini sudah dihuni kembali. Warga sudah beraktivitas normal. Kegiatan belajar-mengajar sudah berjalan seperti biasanya. Truk-truk pengangkut pasir juga mulai menjejali jalan, terseok-seok kelebihan muatan menapak turun.
Namun saat masuk tempat wisata Deles Indah, suasananya masih sepi. Portal besi masih melintang di jalan, yang artinya pengunjung umum belum bisa masuk. Penginapan dan villa belum beroperasi. Di pinggir sungai Kali Woro di Deles ini kami pernah memberi makan monyet-monyet liar yang kelaparan. Kawanan ini berhasil lolos dari sergapan awan panas. Selepas hutan wisata, kami mendaki menuju wilayah hutan perhutani yang sudah menjadi padang terbuka. Hampir tidak ada lagi pohon keras yang tetap utuh.
Jalan untuk menuju lokasi sudah diaspal tipis, tetapi kecil dan curam sehingga kami pesimis apakah truk pengangkut bibit punya nyali sampai di lokasi atau tidak.

Photobucket
Perjalanan kami terhenti karena ada batang pohon besar rebah menghalangi jalan. Padahal masih ada desa di seberang bukit yang harus kami survei. Setelah mengambil gambar seperlunya, kami memutuskan untuk mengambil rute alternatif, meskipun lebih jauh. Dengan dipandu mas Karno, kami menuju desa Tegalmulyo. Desa ini adalah base camp terakhir untuk jalur pendakian menuju Merapi.

Photobucket
Base camp pendakian
Jika biasanya kami hanya melihat figur Merapi seperti tumpeng, kali ini kami bisa melihat detil puncak Merapi. Urat-urat Merapi menonjol dengan perkasa. Batu-batu besar menghias sepanjang jalur lahar dingin menuju kali Gendol dan kali Woro. Bibir Merapi terlihat "cuwil" besar. Bahkan kami bisa melihat pergerakan kepulan asap. Benar-benar sebuah pengalaman yang menakjubkan.

Photobucket
Pohon besar mati


Kami merencanakan akan menanami wilayah ini pada hari Sabtu, 22 Januari 2010. Warga setempat bersedia terlibat dalam aksi ini. Selain itu kami akan menggandeng kembali pasukan Banser NU, pemuda GKI, pemuda GKJ dan FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama). Jika Anda berminat bergabung, silakan hubungi saya (0812-273-1237 atau email purnawank@gmail.com).
Video klip puncak Merapi
Photobucket
Rambu
Photobucket
Angin kencang masih melanda wilayah ini. Lihat daun pisang yang tercabik-cabik oleh angin.
Photobucket
Pethakilan

GKI SW Jateng GKI KlatenBlog WawanNulis Yuk