Senin, 27 September 2010

Respons Merapi H+1

Merapi
Barak Dompol
Begitu Merapi meletus, Tim Tanggap Bencana Departemen Kesaksian dan Pelayanan (DKP) GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah segera melakukan koordinasi. Saya ditugasi memantau wilayah kabupaten Klaten dan Boyolali. Sementara itu untuk wilayah Yogyakarta diserahkan kepada GKI yang ada di Yogya. GKI Gejayan telah membuka posko kemanusiaan di Pakem, tepatnya 1 km di atas barak pengungsi Harjobinangun. Sementara itu Gki Ngupasan langsung membagikan masker. Di wilayah Barat dicakup oleh pdt. Eka Setiawan dan kawan-kawan.
Saya menghubungi Agus Permadi dan Bambang Pudyanto untuk mengajak mereka naik ke lereng Merapi pada esok harinya. Keduanya adalah veteran relawan bencana yang sudah berpengalaman selama 6 bulan di posko kemanusiaan 2006. Tengah malam, berhasil kontak dengan pdt. Krisapndaru dari GKJ Pedan. Beliau menjanjikan relawan.
Pagi-pagi benar, telepon rumah maupun HP tak henti-henti berdering. Banyak jemaat Gki Klaten yang bertanya, “Apa yang bisa saya bantu?” Respon jemaat ini menghangatkan perasaan saya, bahwa ternyata saya tidak sendiri. Saya kemudian menghubungi majelis jemaat untuk mengeluarkan dana taktis bencana. Dana ini memang sengaja dianggarkan dan kapan saja bisa dikeluarkan tanpa menunggu rapat majelis, jika terjadi bencana. Ini adalah rahasia respons cepat GKI Klaten. Relawannya tahu bahwa mereka tidak akan bergerak dengan tangan kosong dan tidak dihambat oleh birokrasi pengambilan keputusan.
Pengurus DKP pun juga telah mencairkan dana tanggap bencana. Berbekal dana awal yang cukup, maka kami kemudian berbelanja kebutuhan pokok seperti beras, mie kering, kecap, mie instan, air minum kemasan, sabun, susu, biskuit dll. Bantuan barang dari jemaat juga mulai mengalir di gereja jago. Barang pertama yang kami cari adalah masker. Menurut info, pasokan masker di Jogja langka. Kami menghubungi apotik milik jemaat. Ternyata mereka hanya punya sedikit masker. Tanpa dinyana, ketika menghubungi salah satu toko besi, ternyata kami masih punya ribuah masker yang dititipkan di toko itu. Ini sungguh berkah tak terduga.
Pukul 7:30, saya menelepon pdt. Sugeng Prasetyo di GKJ Klaten. Namun ternyata beliau sedang berdoa pagi. Sambil menunggu selesai doa, saya menyiapkan formulir-formulir yang diperlukan. Usai doa, pak Sugeng menelepon. Intinya menyatakan kesediaan untuk bergabung. Pendeta Sutomo dari GKJ Gondang dan pdt. Tri dari GKJ Kebonarum kemudian menyusul bergabung. Mereka kemudian bergerak mengumpulkan bantuan dari GKJ Klasis Klaten Barat dan Klasis Klaten Timur. Pukul 9, pendeta Phan Bien Ton menelepon. Dia juga ingin bergabung. Jadi ada 5 pendeta + 1 suami pendeta yang bergabung. Dari persekutuan kelompok, ada beberapa ibu-ibu yang juga gabung. Total jendral ada 21 relawan dengan 5 mobil.
Lokasi barak
Pukul 10 pagi, rombongan merayap ke lereng Merapi. Begitu sampai di Jogonalan, tiba-tiba Agus Permadi menelepon panik, “Berhenti dulu! Maskernya dipakai! Maskernya dipakai!”
Rupanya dia menyaksikan guguran lava yang turun deras ke kaki Merapi. Kami pun buru-buru mengenakan masker. Namun itu tidak bertahan lama, karena ternyata tidak nyaman. Selain itu, debu vulkanik juga tidak menyebar ke arah Klaten.
Perhentian pertama adalah di barak pengungsi di Keputran, kecamatan Kemalang Klaten. Di sini sudah ada beberapa tenda pleton yang didirikan namun tidak ada penghuninya. Sementara itu, di posko, beberapa pegawai pemda menerima dan mencatat bantuan. Kami menurunkan peralatan mandi seperti sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, sabun dan colek. Menurut prosedur, semua bantuan yang harus diserahkan di sini, selanjutnya pemerintah kabupaten Klaten yang akan menyalurkan ke barak pengungsi yang lain. Namun kami belum yakin benar dengan kesungguhan kinerja aparat birokrasi ini.
Barak Dompol
Maka kami meneruskan perjalanan ke barak yang lebih tinggi lagi yaitu di Dompol. Di barak ini ada 1.823 orang yang mengungsi dengan perincian dari Kendalsari 791 jiwa dan dari desa Tegamulyo 1032 jiwa.
Merapi
Pengungsi di barak Dompol


Saya sangat terkesan dengan ketulusan petugas penerima bantuan di posko ini. Mereka tidak menggunakan aji mumpung. Ketika stok masih ada, mereka mengatakan kalau masih ada. Saat melihat persedian beras yang hanya 30 zak, kami menawarkan bantuan beras. Namun mereka menolak bantuan beras. “Besok kami akan dikirimi beras 1,5 ton. Jadi salurkan saja ke tempat lain,” kata petugas posko. Untuk sekali masak siang, mereka menghabiskan 27 zak beras(@ 15 kg). Untuk makan malam, jumlah beras yang dibutuhkan akan meningkat karena kaum laki-laki akan turun ke posko pada malam hari. Pada siang hari, mereka kembali ke rumah untuk mengurusi ternak dan ladang.
Mereka meminta lauk-lauk yang tahan lama (abon, sardin, mie instan), makanan bayi dan biskuit. Kebutuhan yang lain adalah peralatan sanitasi pribadi seperti handuk, sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, gayung, dan sabun colek. Selain itu juga membutuhkan selimut dan pakaian ganti (pakaian bekas juga oke). Sedangkan untuk kebutuhan pangan, mereka sudah cukup.
Merapi
Pengungsi di barak Dompol

Saat melihat ke dapur umum yang dikelola oleh PMI, mereka meminta bantuan gas LPG tabung 12 kg dan 3 kg. Persediaan obat di posko kesehatan juga memprihatinkan. Obat yang esensial sekalipun sangat minim (kalau tidak bisa dikatakan nihil). Misalnya ibat-obatan P3K seperti perban dan antiseptik tidak tersedia. Obat-obat untuk penyakit umum seperti penurun tekanan darah juga tidak ada. Pendeta Sugeng sudah mendata dan punya rencana akan menghubungi tim Obor Berkat Indonesia.
Di sini kami memberikan minyak goreng (5 jerigen), mie kering (5 bal), telur (5 kotak), mihun (5 bal), kecap (24 botol), obat tetes mata, biskuit, dan susu.
Air bersih tersedia cukup. Pasokan listrik juga aman.Nomor telepon barak pengungsi Dompol (0272) 315 4536.
Merapi
Relawan isitirahat untuk makan siang
Barak Bawukan
Berikutnya, kami melambung ke arah barat, yaitu di barak Bawukan. Barak di sini sudah dikelola dengan baik. Tim Tagana dari PMI menjadi ujung tombak dapur umum. Pasokan logistik cukup untuk 2 hari. Sama dengan di Dompol, mereka butuh peralatan sanitasi, selimut dan baju ganti. Di sini kami menurunkan beras 9100 kg), mie instan 5 dos, mie kering 5 bal, minyak goreng 2 jerigen besar, shampo 91 dos), sabun (144 biji), minyak kayuputih 12 botol, Bodrex (12x20), paramex 950 strip), diapet (25 strip), sabun cuci 91 dos). Telur (2 kotak), bolu kue (29 buah), gula pasir (50 kg), biskuit.
Kontak: Alwan Sumardiyato 08122591896
Merapi
Dapur Umum di barak Bawukan
Boyolali
Di mobil masih tersisa banyak logistik. Maka kami memutuskan meluncur ke Cepogo, Boyolali, karena menurut informasi, di sana belum banyak mendapat bantuan. Karena hari sudah terlalu sore, maka kami menurunkan bantuan di Lembaga Kerukunan Umat Beriman (LKUB) di Boyolali. Di sana kami ditemui oleh pdt. Simon. Beliau bersedia untuk mengerahkan relawan untuk membawa bantuan naik ke lereng barat laut merapi. Ternyata benar, respon pemkab Boyolali kurang memadai. Banyak pengungsi yang belum mendapat bantuan. Termasuk juga warga di Sawangan, Magelang.
Bantuan yang diberikan: Perlengkapan bayi (1 dos), obat tetes mata (5 dos), mie kering kuning (10 bal). merica bubuk (1 kantong), buskuit kelapa (4 dos), Royco (1 kantong), air minum (2 karton), beras (25 zak x 25 kg), mie kering (25 pak), telur ayam (3 kotak), air minum aqua gelas (5 dos), biskuit kering (1 dos), garam (3 plastik), abon (1 dos), bihun kering putih (9 bal), mie instan (41 dos), masako (1 kantong), obat nyamuk 1 kantong, masker (6000 lembar), dan terpal.
Merapi
Menurunkan logistik di LKUB Boyolali
****
Dari survei lapangan hari ini dapat disimpulkan bahwa pasokan bahan pangan sudah memadai. Yang dibutuhkan oleh para pengungsi adalah kebutuhan sanitasi pribadi (sabun, handuk, pasta gigi, sikat gigi), selimut, dan baju ganti. Sedangkan untuk dapur umum, yang dibutuhkan adalah lauk-pauk kering tahan lama dan pasokan LPG.
Saat ini kami sedang mengusahakan MCK mobile yang dapat ditempatkan di barak-barak pengungsi. Kebutuhan ini sudah mulai muncul mengingat bau sangat pesing yang mulai tercium di barak Dompol. Ini menunjukkan bahwa mereka kekurangan fasiltas MCK.
Kesehatan pengungsi juga perlu mendapat perhatian serius. Selain kesehatan raga, jika pengungsi akan bermukim di barak untuk waktu lama, maka dibutuhkan sarana pelepas katup ketegangan. Misalnya dengan memutar film, memberikan aktivitas, atau mengadakan pertunjukan rakyat.
Demikian laporan kami, tim survei lapangan yang terdiri dari komponen DKP SW Jateng, GKI Klaten, GKJ Klaten, GKJ Kebonarum, GKJ Pedan dan GKJ Gondang.
Untuk foto-foto hari ini dapat dilihat di sini: http://s233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/Tanggap%20Bancana/
Merapi
LKUB

Merapi
__________________All About Writings

Kamis, 19 Agustus 2010

Doa Syukur dan Buka Puasa

Selasa, 22 Juni 2010

Menabur Damai, Mengusir Srigala

Ketika melakukan kuliah praktik lapangan semasa menjadi mahasiswa, Pelangi (isteriku sekarang) menempati sebuah rumah secara sendirian. Suatu malam, ada seekor kucing yang mencoba menerobos pagar rumah yang cukup tinggi, tapi gagal. Kucing itu terjepit di sela-sela pagar. Tidak bisa maju, tidak bisa mundur.
Pelangi merasa kasihan, lalu mengulurkan tangan untuk melepaskan kucing dari jepitan pagar. Tiba-tiba kucing itu mencakar tangan Pelangi hingga berdarah. Meski dengan menahan sakit Pelangi berhasil membebaskan kucing itu. Kucing itu pun segera berlari menjauh. Maksud baik tidak selamanya diterima dan dipahami dengan baik.
Pikiran itulah yang tiba-tiba terlintas saat aku berada di atas bis Budiman, dalam perjalanan menuju Tasikmalaya. Misiku ke kota yang terkenal dengan bordirnya itu adalah untuk monitoring pembangunan rumah inti bagi korban gempa. Proyek kemanusiaan ini tidak berjalan mulus. Kami menemui berbagai macam kesulitan, terutama kecurigaan dari pemimpin agama. Akibatnya, proyek ini sempat dihentikan secara paksa oleh massa yang mengatasnamakan kepentingan agama.
***
Sebelum ke Tasikmalaya, aku lebih dulu mengikuti rapat dan siaran di Radio Pelita Kasih yang membuatku begadang sampai fajar. Untunglah rumah mertua di tidak jauh dari studio. Ditambah jalanan yang masih lengang, jarak tempuh hanya sekitar 10 menit. Dengan berjingkat-jingkat aku menyelinap ke pintu dapur yang sengaja tidak dikunci. Namun tak urung membangunkan mama mertua. Setelah bersih-bersih badan, aku merebahkan badan dan larut dalam lelap.
Saat matahari bertengger di puncak kepala, barulah aku terjaga, lalu disambut oleh segelas teh manis plus kue manis. Hmmm....menantu yang sangat beruntung. Mertuaku tidak pernah mempersoalkan gaya hidup "ala wartawan" yang dianut oleh menantunya ini. Yang dimaksud "wartawan" di sini bukan merujuk sebuah profesi jurnalis, melainkan singkatan dari "warga tangi awan" (warga bangun siang). Setelah makan siang, pada pukul tiga sore, aku bersiap-siap menuju ke terminal bis Kampung Rambutan. Aku melanjutkan perjalanan menuju Tasikmalaya.
Diantar oleh pengojek, pak Rizal, kami diguyur gerimis sepanjang perjalanan tanpa mengenakan jas hujan. Cuaca memang sedang aneh. Bulan Juli yang seharusnya memasuki musim kering, namun masih menyimpan hujan. Lebih ganjil lagi, guyuran hujan ini tidak merata. Dalam jarak seratus meter kadang hujan, kadang kering. Mula-mula, saat didera hujan, kami berteduh. Tapi kemudian kami putuskan untuk tetap melanjutkan apa yang terjadi. Toh, kalau pun bajuku kebasahan, aku membawa ganti di dalam ranselku, demikian pikirku.
Sesampai di terminal, aku segera menaiki bis Budiman yang selama enam jam kemudian menghantarkanku ke Tasikmalaya. Sudah cukup larut ketika aku turun di depan masjid agung Rajapolah di bawah gerimis. Aku berteduh di pos tentara sambil menunggu kedatangan Pak Bambang dan pak Agus Joker, yang menjemputku. Aku menumpang menginap di rumah pak lurah Dodi, setelah sekretariat kami ditutup paksa oleh massa yang mengatasnamakan kelompok agama.
 
Core House
Keesokan harinya, dengan diantar oleh pak Dodi, aku mengadakan inspeksi ke lapangan.  Setelah mengerjakan sejak bulan Februari, kami sudah merampungkan 33 dari 36 rumah inti yang kami rencanakan. Mungkin Anda bertanya, apa sih "rumah inti" itu? Rumah inti (core house) adalah adalah sebuah bangunan kecil, berukuran 21 m2 yang dikonstruksi dengan baik sehingga dapat digunakan sebagai tempat berteduh dan memberikan perlindungan yang lebih baik jika terjadi gempa. Disebut "inti" karena bangunan ini dapat dikembangkan lagi sesuai dengan dana yang dimiliki oleh penghuninya.
Proyek ini dikerjakan oleh Derap Kemanusiaan dan Perdamaian [DKP] setelah melihat bahwa penyintas gempa di Jawa Barat banyak yang belum mampu membangun kembali rumah mereka. Meskipun didanai dan dikelola oleh gereja, namun proyek ini bersifat kemanusiaan. Tidak ada muatan penyebaran agama terhadap penerima manfaat.
Tahapan pembangunan fisik sudah dimulai pada hari Senin, [1 Maret 2010] dengan membangun rumah contoh [mock up house]. Rumah contoh ini dibangun di atas lahan milik ibu Opon, seorang janda yang tidak memiliki pekerjaan. Kebutuhan sehari-harinya ditopang oleh anak-anaknya. Dua hari sebelumnya, masyarakat secara bergotong royong membersihkan lokasi dan menggali tanah untuk pondasi.
Dalam pembangunan rumah contoh ini, DKP mendatangkan Alfian yang berpengalaman dalam rekonstruksi di Aceh, paska Tsunami. Alfian ditugasi memberikan petunjuk secara langsung tentang teknis pembuatan rumah yang ramah terhadap gempa. Mengapa disebut "ramah gempa", bukan "tahan gempa"? Kami meyakini belum ada bangunan yang seratus persen tahan gempa yang besar. Untuk itu, kami memilih menggunakan istilah "ramah gempa", yang mengindikasikan rancangan ini cukup aman bagi penghuninya. Pada dasarnya, gempa bumi itu tidak membunuh. Yang mencelakai adalah materi bangunan yang runtuh karena terlalu rapuh. Dengan membangun rumah contoh ini, maka warga dan tukang batu di lokasi dilatih untuk mengenal prinsip-prinsip pembangunan rumah yang baik. Misalnya tentang cara pembuatan pondasi, pemasangan tulang-tulang besi, komposisi campuran semen dan pasir, teknis pengerjaan oleh tukang dsb.
Penerima bantuan ini adalah warga rumahnya mengalami rusak berat atau roboh. Daftar penerima manfaat ditetapkan oleh pemerintah desa. Sebelum pelaksanaan pembangunan fisik, para penerima manfaat berkumpul untuk mendapat penjelasan tentang proyek ini. Pada intinya, proyek ini adalah bertumpu kepada masayarakat sebagai pelaksana utama. Warga penerima manfaat akan mendapat bantuan bahan-bahan bangunan, namun mereka harus menyediakan tenaga tukang dan mengawasi pelaksanannya. Sementara itu, pelaksana proyek akan memberikan pendampingan secara teknis. Setiap rumah ditargetkan selesai dalam 2 minggu.
 
Kendala dan Rumor
Pengadaan material bangunan ternyata cukup sulit. Ini berbeda dengan kondisi di Jawa Tengah, yang dapat meminta bahan material kapan saja karena stoknya sudah ada. Di wilayah Ciamis ini, pasir yang berkualitas standar sangat sulit didapatkan. Kebanyakan yang tersedia adalah pasir yang bercampur lumpur. Lokasi penambangan pasir juga hanya ada satu. Untuk mendapatkan pasir yang berkualitas standar dan tidak bercampur lumpur, mereka harus mengeruk lapisan pasir yang lebih dalam. Itu saja jumlahnya sangat terbatas. Dalam sehari hanya bisa didapatkan dua rit pasir. Itu pun harus "rebutan" dengan pihak lain.
Kendala lainnya terletak pada pengenalan teknik yang baru. Dalam proyek ini Alfian memperkenalkan teknik perangkaian besi yang berbeda dengan teknik yang digunakan oleh tukang setempat. Ternyata untuk mengubah kebiasaan ini tidak mudah. Meski sudah diberi instruksi, namun tidak dikerjakan dengan benar. Namun hal ini tidak menjadi persoalan serius. "Justru di sini seni dan tantangannya," kata Alfian,"Saya lebih senang kalau ada orang yang menerima pengetahuan baru dengan susah karena nanti justru akan lebih bertahan lebih lama dibanding dengan orang yang menerimanya begitu saja."
Kendala yang paling berat adalah resistensi dari pemimpin agama setempat. Pada awal proyek, muncul kecurigaan dari pemuka agama bahwa proyek ini dapat "merusak akidah." Namun dengan pendekatan persuasif, akhirnya pemuka agama itu mulai melundak. Mereka bisa menerima keberadaan proyek ini dan berjanji mengirimkan beberapa pemuda untuk bergotongroyong membersihkan lokasi pembangunan.
DKP membagi pembangunan rumah dalam tiga tahap. Dalam setiap tahap dibangun 12 rumah. Tahap I dan Tahap II berlangsung sesuai dengan rencana. Namun di akhir tahap II, beredar rumor tak sedap yang memojokkan keberadaan proyek.
Ada isu yang merebak bahwa GKI sebagai pelaksana proyek ini telah membeli sebidang tanah di sekitar lokasi pembangunan rumah. Menurut isu tersebut, GKI akan mendirikan gedung gereja di atasnya. Untuk melaksanakan misi itu, maka GKI telah membaptis, 10 warga penerima manfaat. Daftar nama-nama orang tersebut ditulis di selembar kertas dengan latarbelakang gambar salib. Dikesankan seolah-olah daftar nama ini dikeluarkan oleh GKI. Namun pembuat selebaran ini membuat kesalahan mendasar karena dia menggunakan salib gereja Katolik (dengan patung Yesus).
Isu lain mengabarkan salah satu petugas pelaksana kami yang ada lapangan telah menikahi menikahi warga setempat dan membuat isterinya itu pindah agama. Bentuk rumah yang dibangun juga dipersoalkan. Menurut rumor, desain rumah bantuan sengaja dibuat mirip dengan gereja. Lalu, DKP juga diisukan mewajibkan penerima manfaat untuk memasang salib di rumah mereka. Tuduhan itu masih berlanjut. DKP dikabarkan mengklaim telah membangun gedung sekolah agama. Hal ini dibuktikan dengan foto gedung (yang hampir roboh), yang memang kami pasang di internet.
Isu ini rupanya ditanggapi dengan serius oleh pihak yang sejak semula memang telah mempersoalkan proyek ini. Di awal proyek mereka sudah bisa menerima penjelasan ini, namun dengan merebaknya isu itu menggerakkan mereka untuk mengambil tindakan. Untuk itu mereka mengundang pertemuan petugas pelaksana kami untuk mengadakan "dialog." Namun yang dimaksud "dialog"ini adalah mendengarkan pembacaan tuntutan dengan dikelilingi ratusan orang berwajah tidak ramah yang meneriakan nama Tuhan. Mereka menuntut agar kami menghentikan proyek, menutup sekretariat proyek dan meninggalkan desa malam itu juga. Di bawah tekanan psikis seperti itu, tidak ada jalan lain bagi petugas kami di lapangan untuk meneken surat tuntutan itu.
Situasi saat itu memang sangat emosional. Warga yang menerima bantuan tidak bisa menerima tuntutan dan bersiap untuk melakukan aksi pembalasan. Karena sangat mungkin pecah konflik horizontal, maka kami memutuskan untuk melakukan cooling down lebih dulu. Semua aktivitas di lapangan dihentikan sambil melakukan konsolidasi dan komunikasi.
Sehubungan dengan rumor ini, maka pak Tatang [nama samaran], pemuka masyarkat memberikan bantahan dan penjelasan di rumah ibadah desa, yang dihadiri para pemuka agama dan pejabat pemerintah. Pak Tatang membantah bahwa GKI telah membeli tanah di desa. "Proses membeli tanah itu tidak semudah itu," kata pak Tatang, "lagipula jika GKI ingin membangun gereja, tentu mereka tidak akan membangun di sini. Mereka akan mendirikan gereja yang ada orang kristennya."
Soal pembaptisan, pak Tatang menyatakan selebaran yang beredar itu tidak mungkin dibuat oleh GKI. Selain keliru dalam mencantumkan jenis salib, nama yang tercantum dalam selebaran itu salah. Dalam selebaran disebutkan salah satu orang yang dibaptis adalah pak Tatang, namun namanya ditulis dengan nama yang hanya diketahui oleh warga desa setempat. "Orang-orang di GKI tidak mungkin menuliskan nama ini karena mereka tidak pernah tahu nama saya yang ini," jelas pak Tatang. Kesimpulannya, selebaran itu palsu dan dibuat oleh orang yang tahu seluk-beluk lokasi pembangunan.
Soal pernikahan petugas lapangan dan isu pindah agama itu hanya isapan jempol. Untuk lebih meyakinkan, maka pak Tatang bersama dengan semua penerima manfaat bersumpah menggunakan kitab suci mereka. Tentang pemasangan salib, para penuduh dipersilahkan mengecek sendiri ke setiap rumah penerima bantuan. "Silakan tanya sendiri pada setiap warga apakah mereka diwajibkan memasang salib. Saya tidak pernah mengarahkan mereka untuk memberikan jawaban tertentu. Tanya saja mereka sendiri," kata pak Tatang dengan berapi-api.
Photobucket
 
Soal foto sekolah agama yang dipasang di internet, pak Tatang menjelaskan bahwa foto tersebut adalah hasil survey. "Yang namanya survei itu adalah mengumpulkan data sebanyak-banyaknya. Mereka memotret kerusakan-kerusakan akibat gempa. Kebetulan sekolah itu juga mengalami kerusakan. Jadi GKI tidak ada niat untuk mengklaim sekolah itu sebagai hasil pekerjaan mereka."
Soal desain rumah, pak Tatang menilai itu tidak mirip dengan gereja. "Tuduhan itu hanya asal-asalan dan dibuat oleh orang yang sakit hati," jawab pak Tatang. Setelah mendengar penjelasan dari pak Tatang, semua pihak menjadi paham duduk persoalannya. "Kalau begitu, maka proyek ini harus dilanjutkan," kata salah satu pemuka agama dari kabupaten, "bahkan kita harus datang pada acara penutupan nanti untuk mengucapkan terimakasih."
Setelah mendapat penjelasan langsung, akhirnya orang-orang yang keberatan dengan proyek itu [sekali lagi] bisa memahami dan mempersilahkan kami untuk melanjutkan tahap terakhir.
Dampak dan Refleksi
Meskipun proyek ini belum selesai, namun dampak dari kegiatan ini sudah mulai dirasakan. Bagi warga desa, proyek ini membangkitkan kesadaran baru tentang keberadaan umat Kristen. Kehadiran gereja atau umat Kristen dalam proyek ini telah membuka hubungan baru yang bernuansa persahabatan dan perdamaian, sehingga dapat mengikis kecurigaan dan kebencian. Masyarakat mulai terbuka terhadap kehadiran umat agama lain. Mereka juga mendapat pengetahuan baru di bidang teknis bangunan yang ramah terhadap gempa. Sedangkan bagi DKP, proyek ini memberikan pelajaran berharga dalam pengorganisasian masyarakat dan menata hubungan antar lembaga.
Keterlibatan dalam proyek ini membuatku dapat menghayati sabda Yesus:“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala." Yang dimaksud "serigala" di sini bukan dalam bentuk kelompok agama lain, melainkan berupa sebuah situasi yang menciptakan ketakutan, teror, kecemasan, dan kekhawatiran:
 
1. Serigala Kemiskinan
Sebagian besar warga desa berada dalam derajat perekonomian pra-sejahtera, atau lebih lugasnya warga yang miskin. Tanah pertanian yang kering hanya dapat dimanfaatkan sekali dalam setahun. Setelah itu, mereka bekerja serabutan. Karena didesak oleh berbagai kebutuhan hidup, sebagian besar warga terjerat utang pada rentenir dengan bunga yang sangat tinggi. Beberapa warga pernah memiliki usaha pembuatan kasur, namun terhenti total sejak dilanda gempa.
 
2. Serigala Kebodohan
Karena miskin, maka warga tidak mendapatkan pendidikan yang memadai. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang terbatas, maka mereka juga kesulitan untuk melepaskan diri dari kemiskinan. Ini adalah sebuah lingkaran setan: Kemiskinan melestarikan kebodohan, dan kebodohan menghambat warga lepas dari kemiskinan.
 
3. Serigala Ketergantungan
Karena dua situasi di atas, maka warga sangat tergantung pada pemuka agama dan tokoh masyarakat dalam pembentukan opini dan pengambilan keputusan. Mereka mendapatkan informasi dari para pemuka pendapat (opinion leader), yang telah terlebih dahulu menyaring informasi dari luar. Akibatnya, sikap dan perilaku warga mudah sekali disetir dan dikendalikan oleh pemuka masyarakat.
 
4. Serigala Prasangka
Selama bertahun-tahun telah terbentuk prasangka-prasangka antar agama, yang dibangun berdasarkan pandangan strereotype. Akibatnya, muncul kecurigaan, permusuhan dan cenderung menutup diri. Kehadiran kelompok agama liyan dianggap sebagai potensi ancaman.
 
5. Serigala Patriarkat
Akar dari semua relasi kuasa yang timpang ini adalah budaya patriarkat yang masih mengurat akar di dalam masyarakat
****
Untuk menghadapi "serigala" ini, maka Yesus memesankan supaya kita "cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”  Dengan melibatkan diri dalam aksi kemanusiaan, maka kami berharap dapat menabur benih-benih perdamaian dan sikap inklusif. Dengan berinteraksi bersama-sama di dalam kerja-kerja kemanusiaan ini, maka serigala-serigala prasangka itu dapat diusir jauh-jauh. "Sekarang mata saya terbuka," kata pak Tatang, pemuka desa setempat, "ternyata saya memiliki saudara-saudara di tempat jauh."
 

Potensi Ekonomi Warga
 Photobucket

Photobucket


Minggu, 25 April 2010

Core House Tahap II

Pembangunan Core House Tahap I sudah selesai. DKP berhasil membangun 12 rumah tipe 21, dengan ukuran 3m x 7m atau 3,5m x 6 m. Segala puji bagi Tuhan! Masih ada 24 rumah yang akan dibangun dalam Tahap II dan III. Jika Anda tergerak menjadi berkat dalam proyek ini, salurkan sumbangan Anda pada rekening DKP a.n. Peter Christianto Wijaya BCA 015-253-8411

Kamis, 15 April 2010

Rakor DKP

Rapat Koordinasi

Core House Cikole Wetan

Selasa, 16 Februari 2010

Pedoman Kebutuhan Dasar

 Pedoman tata cara pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. Diterbitkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana
 Pedoman Kebutuhan Dasar No 7

Pengenalan Karakteristik Bencana

 Buku berjudul :"Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigigasinya di Indonesia. Diterbitkan oleh Pelaksana Harian badan Koordinasi Penanganan Bencana.
 Buku Karakteristik Bencana Edisi2

Buku Saku Gender dalam Keadaan Darurat



1.   Mengapa Kita Peduli dengan Gender


  •   Hubungan yang sederajat (setara) antara laki-laki dan perempuan penting bagi pembangunan manusia dan ekonomi.
  •    Kegagalan untuk memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi kaum perempuan, yang merupakan mayoritas penduduk miskin di seluruh dunia dengan jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki, menyebabkan pembangunan berkelanjutan tidak mungkin dilaksanakan.
  •     Oxfam yakin bahwa kesetaraan paling efektif jika didekati dengan mengubah hubungan-hubungan yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan, daripada mengubah keadaan perempuan itu sendiri.
  •     Bantuan yang diberikan untuk situasi darurat selalu dilaksanakan dengan memperhatikan tujuan jangka panjang kesetaraan gender.


2.   Catatan dan Asumsi-Asumsi yang Perlu Diperhatikan


  •     Kondisi yang berlangsung selama berabad-abad tidak akan bisa diubah dengan membaca buku atau mengikuti lokakarya atau seminar. Upaya ini memerlukan proses panjang.
  •     Sebagaimana kaum perempuan, banyak ahli yang merasa frustasi dan bingung mengapa upaya-upaya dan aksi-aksi yang sudah dilakukan selama puluhan tahun belum juga menghasilkan kesetaraan bagi perempuan.
  •     Sistem yang ada juga menimbulkan berbagai masalah bagi laki-laki, tetapi karena masalah-masalah tersebut tidak begitu nampak dan disadari dibandingkan dengan masalah perempuan, maka masalah tersebut diabaikan begitu saja oleh laki-laki dan perempuan.


3.   Menggunakan Pendekatan Gender Berarti:

Membedakan kelompok-kelompok sasaran. Pendekatan yang membedakan gender penting dalam SEMUA bantuan yang mempunyai tujuan-tujuan yang terkait dengan kelompok sasaran. Kapan saja bantuan ini dihubungkan dengan, atau diarahkan pada, kelompok sasaran tertentu, maka ia akan mempunyai dampak yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Dampak-dampak ini harus ditangani secara terpisah.
Penggunaan istilah-istilah umum seperti keluarga urban atau pengungsi bisa mengaburkan kebutuhan dari perempuan serta kelompok yang terpinggirkan lainnya. Orang dan penduduk mesti selalu dibaca laki-laki dan perempuan, guna mengingatkan diperlukannya keterangan atau informasi yang jelas. Juga mesti dilakukan upaya untuk mengungkapkan perbedaan-perbedaan dalam kelompok ini (kelas sosial, umur, suku, dan sebagainya), karena gender adalah variabel yang mempunyai arti penting yang tidak sama bagi kelompok-kelompok yang berbeda.
Menggunakan pendekatan partisipatif dalam semua tahap bantuan. Mulai dari bantuan pertama sampai pemrograman jangka panjang, partisipasi penerima bantuan dalam identifikasi kebutuhan dan rencana proyek adalah penting. Pendekatan partisipatif seringkali lebih berhasil dalam melihat dan mengatasi perbedaan-perbedaan diantara penduduk, sehingga menghasilkan keuntungan dan manfaat yang berkelanjutan bagi berbagai kelompok. Keterlibatan dan bantuan yang tidak memadai bagi perempuan dan kelompok–kelompok lain yang tidak beruntung cenderung memperburuk kondisi ekonomi dan status sosial mereka.

Menghubungkan bantuan dan tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Bantuan dalam situasi darurat dan program-program untuk mengurangi kemiskinan juga mesti mempengaruhi lapisan masyarakat yang menentukan struktur-struktur sosial dan ikut andil dalam melestarikan ketidaksetaraan. Semua bantuan yang diberikan harus mempertimbangkan dampak atau akibat jangka panjang pada semua akses sumberdaya serta manfaat yang bisa diperoleh oleh kelompok masyarakat yang paling miskin.

Bekerja dengan laki-laki untuk memajukan tujuan-tujuan perempuan. Usahakan untuk terus menyadarkan laki-laki sehingga mereka menjadi peka serta melibatkan mereka (baik rekan kerja maupun masyarakat penerima bantuan) dalam mendukung keterlibatan yang meningkat dan pembuatan keputusan bagi perempuan, untuk memahami manfaat dari perndekatan kesetaraan gender dan pembangunan manusia yang seimbang.

4.    Situasi, Mengumpulkan Informasi Di Lapangan

Upayakan untuk selalu mengumpulkan informasi dari dua pihak : laki-laki dan perempuan; pendapat dan prioritas mereka akan berbeda.

Upayakan untuk selalu mewawancarai perempuan secara terpisah dari laki-laki; tanggapan-tanggapan dan jawaban-jawaban akan lebih akurat dan bermakna jika wawancara dilakukan dalam kelompok yang terdiri orang-orang yang mempunyai jenis kelamin sama.
Kapan saja memungkinkan, perempuan mesti diwawancarai oleh perempuan juga; sekali lagi, langkah ini berpengaruh besar dalam kualitas bantuan yang diberikan.

Pastikan bahwa Anda memperoleh opini dari wakil-wakil perempuan yang dikenal dan diakui, yang pendapatnya mungkin tidak sama dengan pendapat pemimpin-pemimpin pemerintahan setempat (sebagian besar laki-laki).

Panduan sederhana dalam penjajagan (assessment) penilaian yang peka-gender:[1]
1.     Meskipun tidak tersedia cukup waktu untuk melakukan penelitian yang menyeluruh, usahakan untuk tidak membuat asumsi bahwa kebutuhan setiap orang adalah sama.
2.     Usahakan untuk mengenali bahwa perempuan mungkin lebih ‘tidak tampak’ dan di saat-saat krisis mereka mungkin lebih membatasi diri berada di rumah daripada biasanya. Diperlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk memperoleh pandangan dan opini mereka secara terpisah dari laki-laki.
3.     Usahakan untuk mencari informasi dari berbagai kelompok masyarakat: perempuan dan laki-laki, orang awam dan pemimpin masyarakat, individu dan kelompok organisasi.
4.     Gunakan metode penelitian yang sederhana dan fleksibel yang tidak memerlukan keahlian atau peralatan khusus; tentukan jumlah indikator kunci yang sederhana tetapi dapat diolah, tanpa melupakan bahwa indikator-indikator gender-khusus juga perlu dimasukkan.
5.     Usahakan untuk memperoleh keterangan bagaimana laki-laki dan perempuan bertahan hidup melalui upaya mereka sendiri dan cobalah untuk membantunya, daripada memaksakan pandangan pihak luar mengenai apa yang sedang terjadi.
6.     Usahakan untuk memperoleh keterangan mengenai sebagian kecil keluarga yang sangat rentan yang akan dipantau melalui wawancara yang mendalam dan teratur.
7.     Meskipun jarang dilakukan, usahakan untuk menemukan prioritas-prioritas yang ditetapkan oleh masyarakat sendiri. Pahami juga bahwa kebutuhan psikologis, sosial dan budaya serta informasi dalam menjamin kelangsungan hidup mungkin sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan fisik berupa pangan dan tempat tinggal.

Analisis situasi yang menyeluruh menjadi dasar bagi semua analisis dan tahap-tahap perencanaan berikutnya. Jika pada tahap ini tidak dibuat pembedaan antara kelompok-kelompok sasaran yang akan dibantu, maka langkah-langkah berikutnya akan lebih sulit dan mahal untuk dilaksanakan menurut pedoman-pedoman khusus gender.

Pertimbangan dan pertanyaan yang dijabarkan dalam daftar penilaian singkat sebisa mungkin mesti spesifik-gender; usahakan untuk selalu mengenali siapa yang Anda bicarakan. Jika perlu, bagilah laki-laki dan perempuan ke dalam sub-sub kelompok dengan tetap memperhatikan variabel-variabel lain dan usahakan untuk menjelaskan dampak-dampak situasinya secara lebih akurat.
Rincian praktik-praktik sosial, budaya, dan kebiasaan sehari-hari seperti yang diperlukan dalam alat-alat penilaian dan checklist kesehatan masyarakat paling tepat diperoleh dengan menggunakan metode penilaian partisipatif.

5.   Metode Partisipatif

Tujuan utama dari alat-alat penjajagan dan perencanaan partisipatif (PRA, POP, dan sebagainya) adalah untuk menguatkan kemampuan dari kelompok yang secara sosial dirugikan dalam membuat keputusan.
Bahkan penjajagan yang paling penting dan mendesak pun tetap perlu dibicarakan dengan penduduk yang akan dibantu. Sedikit waktu tambahan dan ketelitian metodologis yang dilaksanakan untuk memastikan bahwa perempuan, laki-laki, dan sub-sub kelompok yang layak dibantu mempunyai kesempatan untuk ikut serta akan banyak mempengaruhi ketepatan dan manfaat-manfaat dari bantuan yang diberikan. .

Metode-metode partisipatif lisan memberi kesempatan bagi penduduk yang tidak bisa baca tulis (sebagian besar adalah kaum perempuan) untuk terlibat dalam menentukan prioritas dan merencanakan tindakan.
Waktu dan mobilitas geografis yang terbatas yang dimiliki perempuan harus selalu diperhatikan dan dipertimbangkan ketika meminta partisipasi perempuan. Beban kerja, tanggung jawab mengurus rumah tangga dan anak menjadikan mereka pada umumnya tidak mempunyai banyak waktu untuk menghadiri dan mengikuti pertemuan; jadi mesti ditemukan cara-cara yang memungkinkan keikuksertaan mereka.

Metode partisipatif menuntut:
§        perilaku individu yang positif dalam kedudukannya sebagai penasehat luar
§        ketramplian/keahlian komunikasi yang sangat bagus
§        kesediaan untuk melibatkan masyarakat yang dibantu secara serius, memperlakukan mereka sebagai rekanan yang kompeten, bertanggung jawab,
§        kesediaan untuk belajar dari mereka
§        melibatkan perempuan sebagai fasilitator, karena mereka akan lebih mudah membangun hubungan dengan penduduk perempuan
§        sebagai prasyarat, pemahaman yang menyeluruh akan kondisi sosial dan ekonomi yang terjadi  saat itu*
* Kondisi sosial yang ada harus dipertimbangkan berdasarkan pedoman  khusus gender, dengan mengenali perbedaan-perbedaan dalam,
§        pembagian kerja dan beban kerja
§        sumber-sumber pendapatan
§        komitmen untuk ikut serta dan ikut andil
§        akses pada/kontrol terhadap sumberdaya fisik (tanah, uang, pinjaman, tenaga kerja, dan sebagainya)
§        askes pada sumberdaya lainnya (pendidikan, informasi, bantuan konsultasi)
§        mobilitas
§        bentuk-bentuk organisasi dan partisipasi dalam lembaga-lembaga dan badan-badan formal dan informal

Perbedaan-perbedaan ini menjadi dasar bagi perbedaan persepsi laki-laki dan perempuan mengenai kebutuhan dan prioritas jangka pendek dan jangka panjang.

Setiap tahapan analisis dan perencanaan mesti dilaksanakan sendiri-sendiri dimana laki-laki dan perempuan terpisah, dan dalam beberapa kasus dengan berbagai kelompok usia, dengan tujuan untuk mengetahui cara-cara bagaimana suatu masalah dipahami.  Ketika kita bekerja dengan kelompok-kelompok yang terpisah, perlu juga menyampaikan hasil-hasil dari setiap kelompok kepada kelompok lain dan mendiskusikan berbagai pandangan dengan tujuan untuk mencapai konsensus mengenai konsepsi-konsepsi dan priorotas-prioritas.

Alat-alat penilaian dan perencanaan partisipatif tidak boleh dilihat sebagai kerangka kerja yang kaku, tetapi sebagai panduan dan bantuan yang mengarahkan. Perencanaan yang bagus adalah bagian dari proses yang dapat menyesuaikan diri, mungkin memerlukan waktu yang sedikit lebih lama, tetapi dipastikan adanya partisipiasi yang benar-benar aktif dan fleksibel dalam merespon informasi baru, pemahaman dan pembelajaran yang terus-menerus.

6.   Perencanaan

Dalam penilaian dan rancangan program, kita tidak bisa meminta satu orang anggota team untuk menangani aspek perempuan secara terpisah. Hal ini mengakibatkan komponen-komponen perempuan yang tidak sustainable masuk kedalam bantuan yang lebih besar.

Orientasi kelompok sasaran, dan gender harus dimasukkan dalam acuan-acuan yang mesti dilaksanakan oleh perencana, terapadu dan mengikat secara sistematis. Analisis kelompok sasaran (gender) tidak bisa disusun tanpa melibatkan mereka yang bertanggung jawab dalam aspek-aspek yang lebih teknis dari strategi proyek. Pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan untuk menguraikan dan menjelaskan maksud dan tujuan mesti khas gender.

Dari awal, penasehat-penasehat harus memastikan bahwa staf dan mitra-mitra setempat memahami mengapa pengujian aspek-aspek khas gender, indikator-indikator dan dampak-dampak itu penting.
Ketika sebuah tujuan sudah ditetapkan, mesti ada indikator untuk mengukur kemajuan, keberhasilan atau kegagalannya.

Membedakan tujuan-tujuan dan indikator-indikator berdasarkan gender adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa ada kaidah yang mengikat untuk mencatat dampak-dampak proyek yang khas gender, sehingga memudahkan jalannya proyek.

Tujuan-tujuan serta indikator-indikatornya dibuat untuk mengukur hasil-hasil, sasaran proyek dan semua tujuan, serta  setiap kegiatan proyek. Tujuan dan indikator tersebut mesti:
Tepat, dalam hal:
§      kelompok-kelompok sasaran (siapa?)
§      lokasi
§      kualitas (apa? seberapa bagus?)
§      jangka waktu
§      kuantitas
Realistis : situasi yang dikehendaki mungkin dicapai
Biasa diuji dengan sumberdaya yang tersedia, dan dengan usaha sekecil mungkin
Expresif: mengkhususkan tujuan-tujuan pokok pada berbagai tahap perencanaan yang satu sama lain berdiri sendiri. Indikator-indikator pada satu tahap perencaan bisa membatasi diri pada tujuan-tujuan pada tahap itu saja.

Indikator kualitatif sama pentingnya dengan indikator kuantitatif: bukan hanya berapa banyak jumlah anggota perempuan yang terdaftar dalam panitia pengelola air, tetapi jabatan apa yang mereka tempati dan apakah mereka mempunyai kewewenangan membuat keputusan yang sama sebagaimana laki-laki.

Pertanyaan Kunci
Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan kunci di bawah ini kita bisa menetukan sejauh mana kita berhasil menggunakan pendekatan gender dalam strategi proyek
§        Apakah laki-laki dan perempuan memperoleh manfaat yang sama besarnya?
§        Apakah perempuan dan laki-laki secara aktif terlibat dalam perencanaan proyek, atau pembuatan keputusan? Apa peran mereka masing-masing?
§        Apakah indikator-indikator dirumuskan sudah sesuai dengan pedoman-pedoman khas gender, sehingga berbagai dampak proyek bagi laki-laki dan perempuan bisa ditentukan?
§        Apakah hasil-hasil dan kegiatan-kegiatan sudah dirumuskan menurut pedoman-pedoman khas gender?
§        Apakah kegiatan-kegiatan sudah direncanakan sedemikian rupa misalnya menghilangkan hambatan partisipasi perempuan?
§        Apakah perempuan dan laki-laki sudah merasa puas di mana masalah isu keamanan dan perlindungan ditangani secara memadai?
§        Apakah proyek memberi sumbangan nyata bagi perbaikan kondisi ekonomi dan sosial perempuan?
§        Apakah sudah diambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa jumlah staf proyek perempuan yang memadai telah ikut serta dan memperoleh manfaat?
§        Ketika anggota kelompok sasaran perempuan tidak bisa ditangani secara langsung oleh staf laki-laki, apakah ada rencana untuk mempekerjakan ahli-ahli perempuan?
§        Jika staf yang ada tidak cukup terlatih untuk memberi saran dan membantu kelompok sasaran perempuan, apakah sudah ada rencana untuk mengadakan pelatihan untuk mengatasi hal ini?

7.   Masalah-Masalah Khusus

Masalah-masalah gender di bawah ini perlu diterangkan dalam rancangan proyek:[2]

1.    Kelompok pengguna: biasanya fasilitas air akan digunakan terutama oleh perempuan. Tanggung jawab rumah tangga dan mengurus anak akan menyebabkan mereka sulit berjalan ke tempat-tempat yang jauh. Idealnya perempuan diajak berunding dan dilibatkan dalam membuat keputusan-keputusan mengenai tempat-tempat air dan fasilitas sanitasi, dan dalam pembentukan panitia pemeliharaan sarana/fasilitas tersebut.
2.    Masalah keamanan dan privasi: pelecehan seksual seringkali terjadi dan bahkan meningkat di perbatasan tempat penampungan; karenanya lokasi sumber air, sarana kebersihan dan fasilitas mencuci mesti bisa menjamin bahwa resiko bagi perempuan yang menggunakan sarana tersebut tidak meningkat. Jika penggunaan fasilitas air terbatas waktunya, maka perlu diupayakan agar sarana tersebut hanya digunakan di siang hari kecuali atas permintaan  perempuan sendiri.
3.    Kebutuhan praktis perempuan: dalam rencana menyediakan fasilitas kebersihan upayakan untuk tidak melupakan kebutuhan-kebutuhan perempuan di saat datang bulan; kebutuhan ini perlu dibicarakan secara khusus dengan perempuan sendiri, dan permintaan mereka mesti diperhatikan. Rencana ini meliputi jaminan privasi, penyediaan kain tambahan,  kertas, atau handuk.
4.    Pemeliharaan fasilitas: ketika fasilitas-fasilitas dibangun secara darurat, maka pemeliharaan jangka panjangnya seringkali kurang dipikirkan. Rencana pemeliharaan mesti dibuat dengan melibatkan perempuan dalam musyawarah, terutama ketika sumberdaya donor akan berkurang setiap saat. Jika pengembalian biaya memang perlu dibicarakan, usahakan untuk memperoleh keterangan mengenai dampak dari berbagai pilihan harga bagi keluarga yang lebih miskin dan keluarga yang dikepalai oleh perempuan, dengan melibatkan mereka dalam membuat keputusan-keputusan.

8.   Pelaksanaan

Isu-isu gender dalam pelaksanan program terutama adalah tentang siapa melakukan apa, dan bagaimana mereka melakukannya.
§          Apakah jumlah perempuan yang menjadi anggota tim bantuan sebanding dengan jumlah perempuan dalam masyarakat yang dibantu?
§          Apakah perempuan terlihat bekerja di sektor non-tradisional? Jika tidak, apakah ada rencana untuk melatih perempuan dalam jenis pekerjaan ini?
§          Upaya-upaya apa yang sedang dibuat untuk memaksimalkan pekerjaan dan pelatihan perempuan yang terkena dampak bencana, dan perempuan setempat tidak terkena dampak bencana secara langsung?
§          Apakah setiap orang tahu dan paham dengan efek-efek dari pola perilaku gender?
§          Apakah kapasitas perempuan diakui?
§          Apakah masalah keamanan dan perlindungan diperhatikan?
§          Apakah laki-laki dan perempuan (terdiri dari masyarakat yang dibantu dan staf) terus megikuti kemajuan yang dicapai dan mengetahui keputusan-keputusan yang diambil?

9.   Pemantauan

Pemantauan berarti pengamatan dan dokumentasi yang sistematis terhadap pelaksanaan proyek berdasarkan rencana yang ditetapkan sebelumnya
Pemantauan & Evaluasi seringkali dilakukan sebagai satu tahap untuk mengarahkan rencana bantuan, agar bisa dipastikan adanya perbaikan dan pembelajaran terus-menerus. Partisipasi kelompok sasaran adalah penting.

Dalam melakukan tinjauan program, usahakan untuk selalu membedakan hasil dan dampak menurut jenis kelamin. (Hal ini tidak akan mungkin jika tidak digunakan istilah yang tepat dalam rencana program.) Ungkapan umum untuk hasil, seperti persediaan pangan yang meningkat bagi petani dan keluarganya, tidak akan banyak menjelaskan pada kita siapa yang memperoleh manfaat dari peningkatan tersebut, dan apakah peningkatan itu akan benar-benar memperbaiki keadaan dan kualitas hidup bagi semua anggota keluarga.

Pertanyaan-pertanyaan kunci untuk mencek orientasi gender selama tinjauan kemajuan proyek:
§        Apakah perencanaan dan pelaksanaan proyek didasarkan atas analisis situasi di mana laki-laki dan perempuan dengan latar belakang sosial dan usia yang berbeda bisa berbicara dan mengemukakan pandangan mereka sendiri?
§        Akomodasi apa yang dibuat untuk memastikan partisipasi perempuan?
§        Apakah pembedaan gender secara khusus dimasukkan dalam strategi proyek?
§        Sejauh mana dampak-dampak spesifik gender dari proyek itu dikaji dan dirancang menurut pedoman-pedoman yang telah ditetapkan (misalnya dalam analisis kerangka logis)?
§        Sejauh mana dampak-dampak spesifik gender (yang disengaja atau tidak) diamati selama pelaksanaan program/proyek, dan langkah-langkah apa, jika memang ada, yang sudah/akan diambil untuk memperbaiki atau mengimbangi dampak-dampak tersebut?

10.         Evaluasi

Evaluasi berarti penilaian internal akan informasi yang dikumpulkan selama pemantauan, untuk menentukan apakah pelaksanaan proyek sesuai dengan rencana dan tujuan-tujuannya atau tidak.

Evaluasi yang berguna adalah berupa penilaian dan komentar mengenai kualitas dan sejauh mana perempuan dan laki-laki mempengaruhi rencana proyek. Kelompok-kelompok sasaran mestinya tidak menjadi sumber informasi, tetapi umpan balik mereka semestinya mempengaruhi arah dan pola bantuan.

Evaluasi mesti menjelaskan seberapa besar proses tersebut telah membantu masyarakat (laki-laki dan perempuan yang menerima bantuan) dalam menilai dan mengarahkan aktivitas mereka sendiri.
Dampak-dampak spesifik gender yang direncanakan dan yang tidak direncanakan mesti dicatat. Perhatikan pula bagaimana isu-isu gender dalam program bantuan bisa mempengaruhi
§        keadaan pangan
§        pekerjaan
§        pendapatan
§        beban kerja
§        kesehatan
§        akses pada dan kontrol terhadap sumberdaya
§        kemampuan organisasi
§        partisipiasi dalam pembuatan keputusan
§        jaminan-diri
§        mobilitas
§        status sosial

Dalam evaluasi, seperti tahap-tahap lainnya, tersedianya kesempatan bagi perempuan untuk bisa berbicara dengan sesama kaumnya adalah penting; karenanya diperlukan staf proyek perempuan dengan jumlah yang memadai. Sebagaimana musyawarah-musyawarah lainnya, evaluasi menuntut perencanaan tambahan yang disesuaikan dengan jadual perempuan.

11.         Menilai Usulan Proyek

Penyaringan awal usulan proyek mesti sejalan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan, termasuk gender. Hanya jika hasilnya positif, maka bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu penilaian konsep proyek.

Pertanyaan-pertanyaan kunci yang harus dijawab dan dijelaskan dalam proposal meliputi

Maksud dan Tujuan
§        Apakah persamaan gender disebutkan?
§        Jika hasil-hasilnya menggunakan istilah-istilah seperti pemberdayaan’ atau keberlanjutan, bagaimana istilah tersebut didefinisikan?

Perencanaan
§        Keadaan atau situasi seperti apa yang ingin dicapai oleh usulan proyek? Siapa yang akan memperoleh manfaatnya?
§        Siapa yang dipengaruhi oleh situasi ini? Apakah hanya laki-laki? Perempuan dan laki-laki? Perempuan saja? Apakah pemuda juga terkena dampaknya?
§        Sub-sub kelompok homogen apa yang ada (dalam hubungannya dengan penghasilan, usia, akses pada sumber daya)?
§        Apakah laki-laki dan perempuan diminta menjawab bagaimana mereka melihat masalah, dan apakah muncul pendapat dari mereka ?
§        Potensi-potensi apa yang dimiliki oleh berbagai sub kelompok tersebut dalam bertindak?
§        Apakah kelompok sasaran digambarkan secara jelas dan dijelaskan secara rinci?
§        Apakah peran ganda perempuan diperhatikan?
§        Pola-pola apa yang dibuat untuk melibatkan mereka?
§        Apakah tujuan, hasil dan kegiatan utama direncanakan sejalan dengan kepentingan dan kebutuhan laki-laki dan perempuan?
§        Bukti-bukti apa yang ada untuk menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan akan berpartisipasi secara aktif?
§        Siapa yang akan membuat keputusan dalam hal akses pada proyek dan manfaat-manfaatnya?
§        Bagaimana proyek tersebut bisa membantu meningkatkan kemampuan laki-laki dan perempuan dalam bertindak/membuat keputusan mengenai masalah-masalah yang mempengaruhi mereka?
§        Bagaimana proyek itu bisa menambah pengetahuan tentang hak-hak  dan meningkatkan kemampuan mereka dalam membicarakan hak-hak tersebut?
§        Bagaimana proyek itu bisa membantu meningkatkan kemampuan perempuan dan laki-laki dalam mendukung hasil-hasil proyek di luar bantuan?
§        Bagaimana kesempatan/hambatan yang ada diubah didimasukkan ke dalam rencana?

Evaluasi
§        Apakah indikator-indikator yang ditetapkan memperhatikan peran-peran sosial/gender?
§        Bagaimana dampak-dampak spesifik gender akan diukur?
Usakan untuk menentukan kemungkinan timbulnya dampak-dampak spesifik gender dalam usulan proyek. Kategori-kategori dibawah ini mungkin membantu:
(a) Proyek hanya menangani perempuan;
(b) Perempuan akan dilibatkan secara nyata dalam rencana proyek dan mereka bisa mendapatkan manfaatnya.
(c) Informasi mengenai perempuan tidak benar;
Terdapat resiko-resiko yang merugikan perempuan ketika kepentingan dan kebutuhan mereka tidak diperhatikan secara memadai dalam rencana proyek, dan perempuan mungkin tidak akan memperoleh manfaat;
(d) Perempuan tidak memperoleh manfaat secara memadai. Dampak-dampak negatif pada perempuan mungkin lebih besar daripada upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasinya.Usulan proyek harus dihentikan (atau dibatalkan);
(e) Kelompok-kelompok sasaran dan dampak-dampak spesifik gender dalam lingkungan tidak bisa diukur secara langsung.[3]
Usulan proyek dalam kategori C bisa diperbaiki dengan menawarkan saran rencana proyek, membantu melakukan analisis situasi dan analisis kelompok sasaran yang dibedakan menurut gender. Selalu dibutuhkan waktu dan keahlian yang memadai untuk melakukan analisis ini dengan baik, dan fase pertama dari situasi darurat tidak mesti merupakan waktu yang paling tepat untuk mengadakan pelatihan semacam ini.
Informasi tentang lembaga-lembaga mitra yang diusulkan mesti menjawab,
§        Apakah lembaga tersebut bisa melaksanakan proyek sebagaimana yang digariskan?
§        Apakah lembaga tersebut bisa mengadopsi prosedur-prosedur yang spesifik-gender?
§        Bagaimana perilaku lembaga terhadap pendekatan gender?
§        Apakah akan muncul resistensi atau  perlawanan pada upaya melibatkan perempuan secara aktif?
§        Apakah lembaga mempunyai keahlian yang diperlukan dalam bidang ini?

12.         Masalah-Masalah yang Perlu Dipikirkan Lebih Lanjut

Bidang-bidang umum yang menimbulkan kesalah-pahaman sehingga mempengaruhi keberhasilan bantuan teknis meliputi:

Pembagian peran. Asumsi bahwa perempuan terutama bertanggung jawab dalam urusan rumah, dan laki-laki bertanggung jawab dalam mencari nafkah dan menghidupi keluarga. Di kebanyakan negara-negara berkembang perempuan mempunyai tanggung jawab utama dalam pemenuhan kebutuhan material keluarga, seringkali juga mereka memberi sumbangan yang lebih besar dibandingkan suami mereka. Ini terutama terjadi dalam kelas sosial miskin.

Kepala rumah tangga.  Di banyak negara, lebih dari 30% rumah tangga dikepalai oleh perempuan. Di tempat pengungsian, sering terjadi bahwa  80% dari penduduk yang mengungsi adalah perempuan dan anak-anak.

Kerja. Studi-studi tentang beban kerja menunjukkan bahwa perempuan miskin terutama bekerja lebih lama daripada laki-laki, dan jam-jam kerja mereka pun berupa pekerjaan fisik sehari-hari yang berat, seperti mengambil air, mengumpulkan kayu, menumbuk gabah atau mencuci pakaian. Di samping pekerja untuk memperoleh penghasilan, perempuan di seluruh dunia banyak melakukan pekerjaan rumah tangga yang menumpuk, merawat anak-anak, orang sakit, dan orang tua (lansia). Mobilitas mereka dan jumlah waktu luang yang mereka miliki jauh lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki.

Akses pada bantuan. Akses pada, dan kontrol terhadap, sumber daya penting seperti tanah, modal, pelatihan, dan informasi, tidaklah sama. Akses yang terbatas – waktu, mobilitas, kemampuan baca tulis – yang dimiliki oleh perempuan dan keluarga miskin benar-benar menyebabkan mereka terpinggirkan dari program-program bantuan yang dimaksudkan untuk mengatasi kemiskinan, kecuali jika ada perhatian khusus. Dalam banyak kasus, inisiatif yang berasal dari laki-laki dan yang bias laki-laki telah memperlebar kesenjangan antara perempuan dan laki-laki.



13.         Kesimpulan

Banyak faktor yang ikut melestarikan ketidaksetaraan gender. Diantara faktor-faktor ini ada yang sudah tertanam kuat dan tersembunyi, seperti kecenderungan antara laki-laki dan perempuan untuk berkomunikasi dan bertindak dengan cara tertentu, serta nilai-nilai relatif yang ditempatkan masyarakat pada perilaku ini. Arti penting khusus tempat kerja adalah corak dan mannerism (perilaku) yang kita tafsirkan sebagai indikasi ‘kompetensi’, perilaku sering kali lebih ditonjolkan oleh laki-laki daripada perempuan.

Baik dalam pekerjaan kita maupun di tempat bekerja kita, kita benar-benar perlu lebih mengetahui dan memahami masalah-masalah gender, dengan tujuan untuk memahami bagaimana ketimpangan sosial itu dilestarikan.
Mengenal dan tanggap dengan perbedaan gender adalah langkah penting untuk memperbaiki mutu bantuan dalam situasi darurat. Melakukan hal ini hanya menuntut latihan yang sadar dari pikiran sehat yang bersahaja.



Pustaka
Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit, Gender-aware approaches to relief and rehabilitation: Guidelines, 1996

GADU/Emergencies Unit (Oxfam), Working Guidelines for Gender and Emergencies, 1991

D. Clifton et al, The Sphere Project: Humanitarian Charter and Minimum Standards In Disaster Response-A Gender Review, 1999

M. Legum, System of Gender Relations, Makalah untuk Konferensi for UCT tentang System Thinking (tanpa tahun)

J. Osterhaus, W. Salzer, Gender Differentiation throughout the Project Cycle, Deutsche Gesellschaft  fur Technische Zusammenarbeit, 1995

A. Parker et al, Gender Relations Analysis, A Guide for Trainers, Save the Children, 1995

G. Templer, Gender and Emergencies, http//ourworld.compuserve. com/ homepages/guytempler

UNHCR, People Oriented Planning at Work: Using POP to Improve UNHCR Programming, 1994

B. Walker, Disaster Relief: the Gender Perspective Oxfam, 1993

B. Walker, Gender & Emergencies Oxfam, 1994


[1] G. Templer, Gender and Emergencies, http//ourworld.compuserve.com/homepages/guytempler, overview, hlm. 5/5.
[2] G. Templer, Gender and Emergencies, http//ourworld.compuserve.com/homepages/guytempler, health, hlm. 2/2.
[3] J. Osterhaus, W. Salzer, Gender Differentiation throughout the Project Cycle, Deutsche Geseellschaft fur Technische Zusammenarbeit, 1995


Judul asli:

A Little Gender Handbook For Emergencies or Just Plan Common Sense, Oxfam

GKI SW Jateng GKI KlatenBlog WawanNulis Yuk